Hubungi Kami
Kemerahan pada tungkai bukan selalu infeksi, tapi bisa menjadi petunjuk awal kondisi serius. Webinar ini akan membahas cara membedakan cellulitis dan erysipelas secara klinis agar diagnosis lebih tepat, penatalaksaan lebih efektif, dan risiko komplikasi bisa dicegah.
Kemerahan di tungkai bukan sekadar gejala ringan—bisa jadi pertanda awal infeksi serius yang memerlukan penanganan cepat dan tepat. Salah diagnosis antara cellulitis dan erysipelas dapat berujung pada terapi yang keliru, memperburuk kondisi pasien, hingga meningkatkan risiko komplikasi. Melalui webinar eksklusif ini, Anda akan diajak mendalami perbedaan klinis, patofisiologis, dan histopatologis dari dua infeksi kulit yang tampak serupa, namun membutuhkan pendekatan diagnosis dan terapi yang berbeda. Dipandu oleh narasumber ahli, sesi ini dirancang untuk memperkuat ketajaman klinis Anda dalam mengenali tanda khas, memilih terapi tepat, serta menghindari jebakan umum dalam praktik lapangan. Cocok diikuti oleh dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lain yang ingin menjadi lebih sigap, akurat, dan solutif dalam menghadapi kasus red legs. Saatnya ubah keraguan menjadi kepastian klinis!salah satu tokoh penting dalam kemajuan perawatan luka di Indonesia.
dr. Erdina, M.Sc, Sp.KK, FINSDV adalah Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin berpengalaman yang saat ini berpraktik di RS PMI Kota Bogor dan RS Karya Bhakti Pratiwi, Kabupaten Bogor. Beliau menempuh seluruh jenjang pendidikan kedokterannya di Universitas Gadjah Mada (UGM), mulai dari S-1 Pendidikan Dokter, S-2 Ilmu Kedokteran Klinik, hingga Spesialisasi Dermatologi dan Venereologi. Dengan latar belakang akademis yang kuat serta sertifikasi Fellow of the Indonesian Society of Dermatology and Venereology (FINSDV), dr. Erdina dikenal sebagai dokter yang berdedikasi tinggi dalam memberikan pelayanan terbaik di bidang kesehatan kulit, rambut, kuku, dan penyakit menular seksual. Beliau aktif mengikuti perkembangan ilmu dermatologi modern serta mengedepankan pendekatan medis yang holistik dan berbasis bukti.
Ns. Ikram Bauk adalah sosok inspiratif di dunia keperawatan luka, stoma, dan incontinensia, yang telah berkiprah lebih dari satu dekade di tingkat nasional dan internasional. Beliau adalah CEO Ikram Wound Care Centre di Majene, Sulawesi Barat, sekaligus dosen dan praktisi bersertifikat internasional di bidang WOC (Wound, Ostomy & Continence).
Dengan rekam jejak sebagai pembicara di lebih dari 20 negara dan berbagai kongres internasional bergengsi, termasuk WCET di Kanada, Swedia, Afrika Selatan, dan Australia, Ns. Ikram dikenal karena dedikasinya dalam edukasi perawatan luka dan pencegahan amputasi. Sebagai pelatih nasional, penulis buku, serta pionir praktik mandiri keperawatan di Sulawesi, beliau tidak hanya membagikan ilmunya, tapi juga menggerakkan perubahan nyata di komunitas. Komitmen, pengalaman, dan semangat pengabdiannya menjadikan Ikram Bauk sebagai tokoh kunci dalam pengembangan layanan keperawatan modern di Indonesia.