Palliative wound care tidak selalu berorientasi pada penutupan luka. Pada pasien dengan penyakit lanjut atau luka yang sulit disembuhkan, tujuan perawatan dapat diarahkan pada pengendalian gejala, kenyamanan, fungsi, dan kualitas hidup sesuai kondisi serta preferensi pasien.
Referensi: (World Health Organization [WHO], 2020; European Association for Palliative Care [EAPC], 2023).
Luka pada pasien paliatif dapat menimbulkan berbagai gejala yang kompleks, seperti nyeri, eksudat berlebih, bau, perdarahan, pruritus, dan risiko infeksi, sehingga asesmen perlu dilakukan secara individual dan berorientasi pada gejala yang paling mengganggu pasien.
Referensi: (European Oncology Nursing Society [EONS], 2015; Tilley et al., 2016).
Nyeri luka dapat muncul tidak hanya akibat kondisi luka, tetapi juga selama pembersihan, pelepasan dressing, reposisi, dan tindakan perawatan. Pemilihan teknik serta dressing yang atraumatik menjadi bagian penting dalam meningkatkan kenyamanan pasien.
Referensi: (European Wound Management Association [EWMA], 2002; World Union of Wound Healing Societies [WUWHS], 2004).
Luka kronis dan luka kanker dapat memberikan dampak psikososial yang besar. Bau, eksudat, perubahan citra tubuh, dan ketergantungan dalam perawatan dapat memengaruhi interaksi sosial, harga diri, serta kesejahteraan emosional pasien.
Referensi: (Tilley et al., 2016; Probst et al., 2013).
WHO menekankan bahwa palliative care merupakan pendekatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga melalui pencegahan serta pengurangan penderitaan dengan menangani kebutuhan fisik, psikososial, dan spiritual secara komprehensif.
Referensi: (World Health Organization [WHO], 2020).
Dengan mengikuti program ini, Anda akan memperoleh wawasan praktis yang dapat diterapkan dalam pelayanan, antara lain:
Memahami perubahan tujuan perawatan dari healing-oriented care menuju comfort-oriented care sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.
Meningkatkan clinical decision making dalam mengelola nyeri, bau, eksudat, perdarahan, dan masalah kulit sekitar luka.
Menentukan pilihan dressing dan intervensi yang mempertimbangkan kenyamanan, frekuensi pergantian balutan, serta beban perawatan pasien.
Mengintegrasikan aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual dalam penyusunan rencana perawatan luka.
Memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara pasien, keluarga, caregiver, serta tim multidisiplin dalam menentukan tujuan perawatan yang realistis.
Pastikan Anda memilih kategori profesi yang sesuai saat melakukan registrasi agar nilai SKP tercatat dengan tepat dan terintegrasi pada sistem Kemenkes RI.
👩⚕️ PERAWAT / NERS / SPESIALIS KEPERAWATAN
✅ 7 SKP Kemenkes RI
• Ners – 7 SKP
• Ners Spesialis Keperawatan Anak – 7 SKP
• Ners Spesialis Keperawatan Gawat Darurat Kritis – 7 SKP
• Ners Spesialis Keperawatan Geriatri – 7 SKP
• Ners Spesialis Keperawatan Jiwa – 7 SKP
• Ners Spesialis Keperawatan Kardiovaskuler – 7 SKP
• Ners Spesialis Keperawatan Komunitas – 7 SKP
• Ners Spesialis Keperawatan Maternitas – 7 SKP
• Ners Spesialis Keperawatan Medikal Bedah – 7 SKP
• Ners Spesialis Keperawatan Onkologi – 7 SKP
• Perawat Vokasi – 7 SKP
• Perawat Vokasi Level 5 – 7 SKP
• Perawat Vokasi Level 6 – 7 SKP
✨ Ikuti kegiatan sesuai profesi Anda dan pastikan data registrasi sesuai agar SKP resmi dapat terintegrasi melalui sistem Kemenkes RI.
Dalam program ini, peserta akan mempelajari:
Konsep dan prinsip dasar palliative wound care serta perbedaannya dengan pendekatan yang berorientasi pada penyembuhan luka.
Asesmen komprehensif luka dan penetapan tujuan perawatan berdasarkan kondisi, prognosis, kebutuhan, serta preferensi pasien.
Strategi pengendalian nyeri sebelum, selama, dan setelah tindakan perawatan luka.
Tata laksana bau, eksudat, perdarahan, pruritus, dan risiko infeksi pada luka paliatif.
Pemilihan dressing yang atraumatik dan sesuai dengan tujuan kenyamanan pasien.
Perawatan kulit sekitar luka serta strategi mengurangi frekuensi dan beban pergantian dressing.
Komunikasi terapeutik, edukasi keluarga dan caregiver, serta shared decision-making dalam menentukan prioritas perawatan.
Integrasi aspek psikososial dan spiritual serta kolaborasi multidisiplin untuk mempertahankan martabat dan kualitas hidup pasien.
Beliau adalah seorang Guru Besar di bidang Keperawatan Medikal-Bedah di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Beliau diangkat sebagai Guru Besar pada 23 Januari 2024. Prof. Effendy memiliki pengalaman luas dalam perawatan paliatif, perawatan kanker, perawatan luka, dan perawatan kolostomi. Sejak 2010, beliau aktif membentuk tim perawatan paliatif di Fakultas Keperawatan UGM dan rutin menyelenggarakan seminar serta riset di bidang tersebut.
Yuk daftarkan diri Anda sekarang dan tingkatkan kompetensi bersama para ahli!
DAFTAR SEKARANG ← Kembali