← MUSEUM OSTOMI INDONESIA
Belajar Bersama Ostomate: Meningkatkan Pengetahuan Perawatan Stoma dan Membangun Mental yang Lebih Kuat
Bogor, 5 Agustus 2026 – Museum Ostomi Indonesia (MOI) kembali menyelenggarakan kegiatan Belajar Bersama Ostomate (BBO) sebagai wadah edukasi dan saling berbagi pengalaman bagi para penyandang stoma, pelaku rawat, serta tenaga kesehatan. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, bertempat di Museum Ostomi Indonesia dan melalui Zoom Meeting, sehingga dapat diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 25 peserta daring dan 7 peserta luring turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Para peserta berasal dari berbagai kota, di antaranya Jakarta, Bogor, Garut, Palangkaraya, Bandung, Riau, Makassar, Cirebon, dan Banjarmasin.
Kegiatan dibuka oleh Tomi Abas, S.Kep., Ners., WOC(ET)N, selaku Manajer Museum Ostomi Indonesia, yang menyampaikan pentingnya Belajar Bersama Ostomate sebagai sarana meningkatkan pengetahuan, kepercayaan diri, serta kualitas hidup para ostomate. Pada kesempatan ini, peserta mendapatkan edukasi mengenai cara merawat stoma yang baik dan benar serta stigma dan psikologi ostomate, dua topik yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari penyandang stoma.
Materi mengenai stigma dan psikologi ostomate disampaikan oleh Ns. Rifa Qidya Ardi, S.Kep., CWCC, CST, yang mengajak peserta memahami bahwa tantangan terbesar setelah operasi stoma tidak hanya berasal dari kondisi fisik, tetapi juga dari penerimaan diri, dukungan keluarga, serta lingkungan sosial. Peserta diajak untuk melihat bahwa stoma bukanlah penghalang untuk tetap menjalani kehidupan yang produktif, melainkan sebuah solusi yang memungkinkan seseorang tetap dapat hidup dan beraktivitas.
Suasana diskusi berlangsung sangat interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan oleh peserta, mulai dari hal-hal teknis mengenai perawatan stoma hingga persoalan psikologis yang sering dialami ostomate. Pembahasan mencakup cara mandi tanpa kantong stoma, penggunaan korset stoma saat beraktivitas berat, penanganan apabila terjadi perdarahan di sekitar stoma, hingga cara mengurangi produksi gas yang berlebihan melalui pengaturan makanan. Selain itu, peserta juga mendapatkan penjelasan bahwa keluarnya lendir dari anus pada beberapa jenis ostomate merupakan kondisi yang normal sehingga tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan.
Tidak hanya membahas aspek medis, sesi ini juga menjadi ruang aman bagi peserta untuk menyampaikan berbagai pengalaman emosional yang mereka alami. Beberapa peserta mengungkapkan rasa malu ketika kantong stoma mengeluarkan suara di tempat umum, rasa cemas saat melihat perdarahan di sekitar stoma, hingga perasaan putus asa setelah menjalani operasi pemasangan stoma. Melalui diskusi tersebut, para narasumber memberikan dukungan sekaligus berbagai strategi untuk membangun kepercayaan diri, mengelola kecemasan, serta mendorong peserta agar aktif bergabung dengan komunitas ostomate sehingga dapat saling menguatkan dan berbagi pengalaman. Pesan penting yang disampaikan dalam sesi ini adalah bahwa stoma bukan akhir dari segalanya, melainkan solusi agar seseorang tetap dapat melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.
Kegiatan Belajar Bersama Ostomate kembali menunjukkan bahwa edukasi yang berkelanjutan serta dukungan komunitas memiliki peran besar dalam meningkatkan kualitas hidup ostomate. Melalui forum ini, peserta tidak hanya memperoleh informasi yang benar mengenai perawatan stoma, tetapi juga mendapatkan motivasi, semangat, dan rasa percaya diri untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Museum Ostomi Indonesia berharap kegiatan Belajar Bersama Ostomate dapat terus menjadi ruang belajar, berbagi, dan saling menguatkan bagi seluruh ostomate, keluarga, pelaku rawat, maupun tenaga kesehatan. Sesi Belajar Bersama Ostomate berikutnya direncanakan akan dilaksanakan secara offline pada Selasa, 18 Agustus 2026, di Pelita Desa Ciseeng, sebagai bagian dari komitmen Museum Ostomi Indonesia dalam menghadirkan edukasi yang lebih dekat dengan masyarakat dan komunitas ostomate.