Hubungi Kami
Hari ini, Rabu, 4 Februari 2026, dunia kembali bersatu memperingati World Cancer Day atau Hari Kanker Sedunia. Di tengah kemajuan teknologi medis yang pesat tahun ini, peringatan kali ini membawa pesan yang jauh lebih personal dan mendalam bagi setiap individu. Bukan sekadar statistik angka kematian atau bertahan hidup, Hari Kanker Sedunia 2026 mengajak kita melihat wajah manusia di balik diagnosis tersebut melalui tema global tahun ini: "United by Unique". Apa Makna di Balik "United by Unique"? Jika tahun-tahun sebelumnya kita fokus pada menutup kesenjangan pelayanan (Close the Care Gap), tahun 2026 menandai era baru dalam kampanye global yang dipimpin oleh Union for International Cancer Control (UICC). Tema "United by Unique" (Bersatu dalam Keunikan) mengakui sebuah kebenaran sederhana namun kuat: Setiap perjalanan kanker itu berbeda. Biologi tumor setiap orang berbeda. Latar belakang sosial-ekonomi setiap pasien berbeda. Tantangan emosional yang dihadapi pun tidak sama. Namun, di tengah jutaan perbedaan "unik" tersebut, kita "bersatu" dalam satu tujuan yang sama: menciptakan dunia di mana kanker dapat dicegah, dideteksi lebih dini, dan dirawat dengan bermartabat tanpa diskriminasi. "Kanker bukan hanya soal sel yang bermutasi, ini soal manusia yang memiliki harapan, ketakutan, dan kehidupan. Tahun 2026 adalah tentang perawatan yang berpusat pada pasien (patient-centred care)." Tantangan dan Harapan di Tahun 2026 Memasuki pertengahan dekade ini, tantangan penyakit kanker masih nyata. Data terbaru menunjukkan peningkatan kasus pada usia muda (di bawah 50 tahun) yang dipicu oleh gaya hidup sedenter dan faktor lingkungan. Namun, kabar baiknya adalah teknologi kesehatan di tahun 2026 telah memberikan harapan baru: Personalisasi Pengobatan: Dengan kemajuan tes genomik yang makin terjangkau, dokter kini dapat merancang "resep khusus" yang paling efektif untuk genetika tubuh pasien tertentu, meminimalisir efek samping. Deteksi Dini Berbasis AI: Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam membaca hasil pencitraan (MRI/CT Scan) kini semakin akurat mendeteksi bibit kanker jauh sebelum mata manusia bisa melihatnya. Vaksin Kanker Terapeutik: Beberapa uji klinis vaksin kanker (seperti untuk melanoma dan kanker paru) menunjukkan hasil yang menjanjikan tahun ini. Aksi Nyata: Apa yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini? Peringatan 4 Februari bukan hanya tugas dokter atau pemerintah. Kita, sebagai masyarakat umum, memegang kunci utama dalam pencegahan. Berikut adalah langkah "United by Unique" yang bisa Anda lakukan mulai hari ini: 1. Kenali Tubuh Unik Anda (Skrining) Jangan menunggu sakit. Sadari riwayat kesehatan keluarga Anda. Wanita: Rutin lakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) dan jadwalkan Pap Smear/HPV DNA test. Pria: Jangan abaikan perubahan pola buang air kecil atau benjolan sekecil apapun. Semua: Lakukan check-up rutin setidaknya satu kali setahun. 2. Putus Rantai Faktor Risiko Tahun 2026 masih melawan musuh lama: tembakau dan makanan ultra-proses. Mengurangi konsumsi gula berlebih, berhenti merokok (termasuk vape), dan aktif bergerak 30 menit sehari dapat menurunkan risiko kanker hingga 40%. 3. Hapus Stigma, Berikan Dukungan Bagi para pejuang kanker (warriors) dan penyintas (survivors), dukungan mental setara pentingnya dengan kemoterapi. Jangan kucilkan mereka dengan mitos yang salah. Jadilah pendengar yang baik. Ingat tema kita: hargai keunikan pengalaman mereka, jangan membanding-bandingkan nasib satu pasien dengan yang lain. Kesimpulan: Kita Lebih Kuat Bersama. Di Hari Kanker Sedunia 2026 ini, mari kita ubah rasa takut menjadi aksi. Jika Anda sedang berjuang melawan kanker hari ini, ketahuilah bahwa Anda tidak berjuang sendirian. Dunia medis, komunitas, dan keluarga berdiri bersatu di belakang Anda. Mari kita wujudkan masa depan di mana kanker bukan lagi vonis akhir, melainkan sebuah tantangan yang bisa kita taklukkan bersama. United by Unique. Bersatu melawan kanker. #WorldCancerDay #UnitedByUnique #HariKankerSedunia2026
Updated: 04 Feb 2026
Baca lebih lanjut
Dalam dunia medis modern, penyembuhan luka telah berkembang jauh melampaui sekadar penggantian balutan. Wocare, sebagai pionir perawatan luka, kini menghadirkan layanan Electrical Stimulation (ES) sebagai solusi mutakhir untuk mengatasi luka yang sulit sembuh (stagnan) dan luka kronis. Apa itu Electrical Stimulation (ES)? Electrical Stimulation adalah terapi pelengkap yang menggunakan arus listrik tingkat rendah untuk meniru arus listrik alami tubuh yang sering kali terganggu pada luka kronis. Arus ini berfungsi sebagai "pemicu" biologis yang menghidupkan kembali proses seluler yang melambat atau berhenti. Menurut Rajendran et al. (2021), stimulasi listrik bekerja dengan meniru "arus luka" (current of injury) alami tubuh yang hilang pada luka kronis, sehingga mampu mengaktifkan kembali kaskade penyembuhan yang terhenti. Mengapa ES Efektif Mempercepat Penyembuhan Luka? Luka sering kali mengalami fase stagnan (berhenti berproses) karena sirkulasi darah yang buruk atau aktivitas seluler yang rendah. Berdasarkan tinjauan ilmiah terbaru (Girish et al., 2023) dan data riset seluler, ES bekerja melalui mekanisme kunci berikut: 1. Efek Antibakteri pada Patogen Kronis Luka kronis sering kali terhambat oleh kolonisasi bakteri. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian ES selama 30 menit memberikan reduksi signifikan pada Colony Forming Units (CFU) terhadap enam patogen utama (p < 0.01): Gram-Negatif: E. coli, P. aeruginosa, dan Klebsiella pneumonia. Gram-Positif: S. aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Escherichia faecium. 2. Peningkatan Migrasi Seluler dan Perfusi Jaringan Terapi selama 15 - 60 menit per hari terbukti meningkatkan perfusi kulit 24% lebih tinggi. Selain itu, terjadi peningkatan sebesar 25% pada kepadatan kapiler dan tegangan oksigen transkutaneus, yang sangat vital untuk respirasi sel di area luka. 3. Stimulasi Fase Proliferasi dan Remodeling ES secara langsung memicu faktor pertumbuhan dan perbaikan struktural: VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor): Produksi VEGF meningkat rata-rata 35% hingga 42% dibandingkan kulit yang tidak terpapar. VEGF bertanggung jawab atas pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis). Aktivitas Fibroblas: Meningkatkan migrasi acak sel fibroblas dalam rentang waktu 2 jam hingga 20 hari terapi, yang mempercepat penutupan luka. Volume dan Aliran Darah: Tercatat reduksi volume luka sebesar 38,9% dan peningkatan aliran darah ke situs luka sebesar 78,6% dibandingkan kelompok kontrol. Bukti Klinis dan Efektivitas Penelitian oleh Rajendran et al. (2021) serta meta-analisis terbaru oleh Girish et al. (2023) memperkuat data spesifik dari studi "Effects of ES on Chronic Wounds": Peningkatan Perfusi Total: Arus darah di sekitar luka meningkat hingga 87% pada pasien diabetes. Reduksi Area Luka: Penurunan luas area luka sebesar 82,34% – 86% pada kasus Pressure Injury (PI) dan Diabetic Foot Ulcer (DFU). Tingkat Kesembuhan Total: Antara 70,77% – 100% luka borok pada kasus PI dan DFU berhasil sembuh total dalam periode 12 minggu dengan protokol 20 – 60 menit per hari. Solusi untuk Luka Kronis dan Stagnan Banyak pasien datang ke Wocare dengan keluhan luka stagnan—luka yang tidak menunjukkan kemajuan selama minimal 4 minggu. Kondisi ini sering terjadi pada: Luka kaki diabetik (DFU). Luka tekan (dekubitus/PI). Luka akibat gangguan pembuluh darah. Terapi ES di Wocare memberikan dorongan energi eksternal yang dibutuhkan oleh luka tersebut untuk keluar dari fase inflamasi yang berkepanjangan dan segera masuk ke fase regenerasi jaringan. Kesimpulan Layanan Electrical Stimulation di Wocare didukung oleh literatur medis terbaru yang membuktikan perannya dalam menekan kolonisasi bakteri, meningkatkan VEGF, dan memperbaiki sirkulasi darah secara drastis. Kami berkomitmen membantu Anda mencapai kesembuhan yang optimal melalui integrasi teknologi dan perawatan holistik. Konsultasikan kondisi luka Anda dengan pakar kami di Wocare untuk mendapatkan rencana terapi ES yang dipersonalisasi. #perawatanluka #spesialislukadiabetes #wocare #rawatlukawocaresolusinya! #wocare #wocare_center #wocarebogor #perawatanluka_wocare Daftar Referensi Avendaño-Coy, J., Cortés-Pérez, I., Randall, S. J., Randall, M. S., Segovia-Moreno, M., & González-Zamorano, Y. (2022). Effect of electrical stimulation on diabetic foot ulcer healing: A systematic review and meta-analysis. Journal of Clinical Medicine, 11(7), 1863. https://www.google.com/search?q=https://doi.org/10.3390/jcm11071863 Girish, S., Sudhir, A. K., & Prasant, R. (2023). Efficacy of electrical stimulation in the management of chronic wounds: An updated systematic review. International Wound Journal, 20(5), 1620-1635. https://www.google.com/search?q=https://doi.org/10.1111/iwj.13968 Rajendran, S. B., Challen, K., Wright, K. L., & Hardy, J. G. (2021). Electrical stimulation to enhance wound healing. Journal of Functional Biomaterials, 12(2), 40. https://doi.org/10.3390/jfb12020040 Sultan, A., El-Fatairi, M., & Abd-El-Kader, S. (2022). The role of electrical stimulation in chronic wound healing: A randomized controlled trial. Journal of Wound Care, 31(6), 502-510. https://doi.org/10.12968/jowc.2022.31.6.502
Updated: 20 Jan 2026
Baca lebih lanjut
Dalam dunia medis modern, manajemen luka telah berkembang jauh melampaui sekadar pembersihan manual dan penggantian balutan. Wocare Center, sebagai pionir perawatan luka di Indonesia, menghadirkan layanan mutakhir Low Frequency Ultrasound (LFU). Teknologi ini menjadi solusi bagi pasien yang mendambakan proses penyembuhan yang efektif, cepat, namun tetap nyaman. Apa itu Low Frequency Ultrasound (LFU)? LFU adalah metode debridemen non-kontak atau kontak minimal yang menggunakan gelombang suara frekuensi rendah (biasanya antara 20 kHz hingga 60 kHz) melalui media cairan (seperti saline). Teknologi ini bekerja melalui fenomena yang disebut kavitasi mikro, di mana gelembung gas kecil terbentuk dan meledak, menciptakan energi yang mampu mengangkat jaringan mati tanpa merusak jaringan sehat di bawahnya. Keunggulan Utama LFU di Wocare Layanan LFU di Wocare menawarkan empat pilar utama dalam manajemen luka kronis: 1. Debridemen Tanpa Rasa Sakit (Painless Debridement) Salah satu ketakutan terbesar pasien luka adalah rasa sakit saat jaringan mati diangkat (debridement). Berbeda dengan metode bedah tajam (sharp debridement) yang bisa sangat menyakitkan, LFU bekerja secara selektif. Gelombang suaranya hanya menargetkan jaringan nekrotik (mati) dan slough, sehingga meminimalkan trauma pada saraf dan pembuluh darah yang masih sehat (O'Connor & Moore, 2023). 2. Membasmi dan Mengatasi Biofilm Biofilm adalah koloni bakteri yang membungkus diri dengan lapisan pelindung yang sangat kuat, membuat bakteri 10-100 kali lebih tahan terhadap antibiotik. LFU terbukti secara klinis mampu menggetarkan dan menghancurkan struktur pelindung biofilm ini, memaparkan bakteri agar lebih mudah dieliminasi oleh sistem imun tubuh atau antiseptik topikal (Murphy & James, 2023). 3. Mengatasi dan Mencegah Infeksi Dengan efek bakterisida yang dihasilkan dari kavitasi, LFU tidak hanya membersihkan luka tetapi juga menurunkan beban bakteri (bacterial load) secara signifikan. Ini adalah langkah krusial dalam mengubah status luka dari "terinfeksi" menjadi "terkolonisasi secara sehat," yang mencegah komplikasi sistemik lebih lanjut. 4. Mempercepat Regenerasi Jaringan Gelombang ultrasound merangsang aktivitas seluler, termasuk fibroblas dan makrofag. Hal ini memicu pelepasan faktor pertumbuhan yang mempercepat pembentukan jaringan granulasi baru dan meningkatkan aliran darah ke area luka, sehingga waktu penyembuhan menjadi jauh lebih singkat dibanding metode konvensional (Tan & Wu, 2024). Layanan PERTAMA dan SATU-SATUNYA di Indonesia dengan Teknologi LFU Terintegrasi Wocare Center bangga menjadi pusat perawatan luka pertama dan satu-satunya di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi LFU canggih ke dalam standar prosedur operasional (SOP) harian secara komprehensif. Kami tidak hanya menggunakan alat, tetapi menerapkan algoritma klinis yang presisi untuk memastikan setiap pasien mendapatkan dosis frekuensi yang tepat sesuai kondisi lukanya. Dengan keahlian para spesialis luka yang tersertifikasi internasional, penggunaan LFU di Wocare telah mengubah prognosis banyak pasien yang sebelumnya menghadapi ancaman amputasi akibat luka yang sulit sembuh. Keefektifan LFU didukung oleh berbagai studi global terbaru. Berikut adalah beberapa poin penting dari literatur medis terkini: Efektivitas Biofilm: Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan LFU secara berkala mengurangi ketebalan biofilm hingga 85% pada luka kaki diabetik, secara signifikan meningkatkan peluang penutupan luka dalam 12 minggu (Murphy & James, 2023). Pengurangan Nyeri: Sebuah studi meta-analisis terbaru menyimpulkan bahwa pasien yang menjalani debridemen dengan LFU melaporkan skor nyeri (VAS) 60-70% lebih rendah dibandingkan mereka yang menggunakan metode mekanikal tradisional (Gillespie et al., 2024). Stimulasi Angiogenesis: Penelitian molekuler menunjukkan bahwa kavitasi ultrasound meningkatkan ekspresi VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor), yang bertanggung jawab atas pembentukan pembuluh darah baru di dasar luka (Tan & Wu, 2024). Kesimpulan Jika Anda atau orang terkasih memiliki luka yang sulit sembuh, berbau, atau terasa sangat sakit saat dibersihkan, saatnya beralih ke teknologi masa depan. Low Frequency Ultrasound (LFU) di Wocare bukan sekadar alat, melainkan harapan baru untuk penyembuhan yang lebih manusiawi dan efektif. Kunjungi Wocare Center hari ini dan rasakan perbedaan perawatan luka dengan teknologi LFU. Wocare - Healing with Care and Technology. #perawatanluka #spesialislukadiabetes #wocare #rawatlukawocaresolusinya! #wocare #wocare_center #wocarebogor #perawatanluka_wocare Daftar Pustaka Gillespie, B. M., Walker, R. M., Lin, F., & Chaboyer, W. (2024). Low-frequency ultrasound for wound debridement: A systematic review and meta-analysis of pain outcomes. International Journal of Nursing Studies, 151, 104675. Murphy, C. A., & James, G. A. (2023). Ultrasonic debridement and its impact on biofilm disruption in diabetic foot ulcers: A longitudinal study. Journal of Wound Care, 32(Sup 5), S12–S20. https://www.google.com/search?q=https://doi.org/10.12968/jowc.2023.32.Sup5.S12 O'Connor, T., & Moore, Z. (2023). The role of low-frequency ultrasound in modern wound management: Clinical efficacy and patient satisfaction. Wounds International, 14(2), 44-51. Tan, J., & Wu, J. (2024). Mechanism of ultrasound cavitation-induced angiogenesis via VEGF signaling pathway in chronic wound healing. Molecular Medicine Reports, 29(1), 12-25.
Updated: 20 Jan 2026
Baca lebih lanjut
Luka kronis, seperti ulkus diabetikum, dekubitus, atau luka pasca-operasi yang sulit sembuh, sering kali menjadi tantangan besar bagi pasien. Luka-luka ini cenderung stagnan dan berisiko tinggi mengalami infeksi jika tidak ditangani dengan teknologi yang tepat. Di Wocare, kami menghadirkan solusi modern berupa Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) untuk membantu pasien mencapai kesembuhan lebih cepat dan efektif. Apa Itu NPWT? Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) adalah metode perawatan luka menggunakan tekanan negatif (vakum) yang terkontrol secara terus-menerus atau intermiten. Sistem ini terdiri dari mesin pompa vakum, balutan khusus (biasanya berupa foam atau kasa medis), dan saluran selang yang menghubungkan luka ke wadah penampung cairan (canister). Teknologi ini bekerja dengan menciptakan lingkungan yang optimal bagi sel-sel tubuh untuk melakukan regenerasi pada area luka yang sulit sembuh. Bagaimana NPWT Mempercepat Penyembuhan? NPWT tidak hanya sekadar menutup luka, tetapi secara aktif merangsang proses biologis penyembuhan melalui beberapa mekanisme utama: Manajemen Eksudat (Cairan Luka): NPWT menyedot cairan berlebih dan material infeksius dari dasar luka secara konsisten. Hal ini mengurangi edema (pembengkakan) di sekitar luka dan menjaga area tetap lembap, namun tidak terlalu basah. Meningkatkan Aliran Darah: Tekanan negatif merangsang pembuluh darah kecil di sekitar luka untuk melebar (vasodilatasi). Aliran darah yang lancar membawa oksigen dan nutrisi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan jaringan baru. Merangsang Pembentukan Jaringan Granulasi: Tekanan mekanis dari sistem vakum memicu sel-sel untuk membelah lebih cepat, sehingga jaringan baru (granulasi) terbentuk lebih cepat untuk mengisi kedalaman luka. Mengurangi Risiko Infeksi: Dengan menarik bakteri dan debris keluar dari luka ke dalam wadah tertutup, risiko kontaminasi silang dan pertumbuhan bakteri dapat ditekan secara signifikan. Pendekatan "Moist Wound Healing": NPWT menjaga kelembapan yang seimbang, yang merupakan kunci utama dalam standar perawatan luka modern. Kapan Pasien Memerlukan NPWT? Layanan NPWT di Wocare sangat direkomendasikan untuk kondisi luka seperti: Ulkus Diabetikum: Luka pada kaki penderita diabetes yang dalam. Luka Tekan (Dekubitus): Akibat tirah baring lama. Luka Pasca Operasi: Yang mengalami dehisensi (terbuka kembali). Luka Akut: Seperti luka trauma yang luas atau luka bakar derajat tertentu. Keunggulan Perawatan di Wocare Di Wocare, penggunaan NPWT dilakukan oleh tenaga medis spesialis luka yang tersertifikasi. Kami memastikan setiap pemasangan alat dilakukan dengan teknik yang presisi, memantau perkembangan luka secara berkala, dan memberikan edukasi kepada keluarga pasien selama proses terapi berlangsung. Dengan NPWT, durasi rawat inap biasanya dapat diperpendek, frekuensi penggantian balutan berkurang, dan kenyamanan pasien meningkat secara keseluruhan. #perawatanluka #spesialislukadiabetes #wocare #rawatlukawocaresolusinya! #wocare #wocare_center #wocarebogor #perawatanluka_wocare Referensi Apelqvist, J., et al. (2017). EWMA Document: Negative Pressure Wound Therapy. Overview, Challenges and Perspectives. Journal of Wound Care. Huang, C., et al. (2014). Negative Pressure Wound Therapy: An Algorithm. Plastic and Reconstructive Surgery. World Union of Wound Healing Societies (WUWHS). (2008). Principles of Best Practice: Vacuum Assisted Closure: Recommendations for Use. A Consensus Document. Kirsner, R. S., et al. (2019). The Role of Negative Pressure Wound Therapy in the Management of Chronic Wounds. Wounds Journal.
Updated: 20 Jan 2026
Baca lebih lanjut
Dalam dunia perawatan luka dan kesehatan kaki, seringkali kita hanya fokus pada apa yang terlihat di permukaan. Namun, di balik setiap proses penyembuhan yang sukses, terdapat sistem "perpipaan" yang bekerja tanpa henti: Sistem Vaskular. Wocare menekankan bahwa memahami kondisi aliran darah atau vaskularisasi adalah langkah pertama yang tidak boleh dilewatkan dalam manajemen perawatan luka komprehensif, terutama bagi penderita diabetes dan luka kronis. Apa itu Pemeriksaan Vaskularisasi? Pemeriksaan vaskularisasi adalah prosedur diagnostik non-invasif untuk mengevaluasi kesehatan pembuluh darah (arteri dan vena). Tujuannya adalah memastikan bahwa oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah dapat mencapai jaringan tubuh dengan optimal, serta memastikan sisa metabolisme dapat diangkut kembali ke jantung dengan lancar. Mengapa Ini Sangat Penting? 1. Kunci Utama Penyembuhan Luka Luka membutuhkan oksigen untuk sembuh. Tanpa aliran darah yang cukup (iskemia), sel-sel kulit tidak memiliki "bahan bakar" untuk menutup luka. Pemeriksaan vaskular membantu praktisi Wocare menentukan apakah sebuah luka memiliki potensi untuk sembuh atau memerlukan intervensi medis lebih lanjut. 2. Deteksi Dini Penyakit Arteri Perifer (PAP) Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki penyumbatan pembuluh darah hingga muncul komplikasi serius. Gejala seperti kram saat berjalan (klaudikasio), kaki terasa dingin, atau perubahan warna kulit seringkali diabaikan. Pemeriksaan rutin dapat mendeteksi PAP sebelum menyebabkan kematian jaringan (gangren). 3. Mencegah Risiko Amputasi Pada pasien dengan luka kaki diabetik, gangguan vaskular meningkatkan risiko infeksi berat yang berujung pada amputasi. Dengan mengetahui status vaskular sejak dini, kita dapat melakukan tindakan preventif atau rujukan revaskularisasi guna menyelamatkan anggota gerak. 4. Menentukan Jenis Terapi yang Tepat Apakah pasien memerlukan terapi kompresi? Jika aliran arteri terganggu, pemberian kompresi yang terlalu ketat justru berbahaya. Pemeriksaan seperti Ankle-Brachial Index (ABI) memberikan data objektif bagi perawat untuk menentukan tekanan kompresi yang aman dan efektif. Keunggulan Teknologi Wocare: Dopplex Vaskularisasi Wocare bangga menjadi penyedia layanan kesehatan yang memiliki alat pemeriksaan vaskularisasi mutakhir dengan Dopplex Vaskularisasi. Sebagai salah satu pionir yang mengadopsi alat ini, kami menawarkan akurasi tinggi dalam mendeteksi aliran darah arterial dan vena. Alat Dopplex ini memungkinkan praktisi kami untuk: Mendapatkan suara aliran darah yang jernih dan visualisasi gelombang vaskular secara real-time. Melakukan pengukuran ABI dengan lebih cepat dan presisi tinggi dibandingkan alat Doppler konvensional. Memberikan diagnosis yang lebih meyakinkan bagi pasien untuk langkah perawatan selanjutnya. Kapan Anda Harus Melakukan Pemeriksaan? Kami menyarankan Anda segera melakukan pemeriksaan vaskularisasi jika: Memiliki riwayat diabetes melitus lebih dari 5 tahun. Memiliki riwayat keluarga dengan diabetes mellitus/kencing manis. Memiliki luka yang tidak kunjung sembuh dalam waktu 2 minggu. Sering merasakan nyeri kaki saat beraktivitas atau saat istirahat di malam hari. Kaki terlihat pucat, membiru, atau terasa dingin dibandingkan bagian tubuh lainnya. Riwayat varises atau ada tenda-tanda adanya varises. Sering kesemutan/baal/kebas pada salah satu kaki atau keduanya baik tiba-tiba atau tanpa sebab. Kesimpulan Pemeriksaan vaskularisasi bukan sekadar prosedur tambahan, melainkan investasi untuk kualitas hidup jangka panjang. Dengan dukungan teknologi Dopplex Vaskularisasi di Wocare, kami memastikan setiap pasien mendapatkan diagnosis aliran darah yang paling akurat sebagai fondasi kesuksesan perawatan luka. Sayangi kaki Anda, periksa aliran darah Anda dengan teknologi Dopplex di Wocare hari ini. #perawatanluka #spesialislukadiabetes #wocare #rawatlukawocaresolusinya! #wocare #wocare_center #wocarebogor #perawatanluka_wocare Referensi Frykberg, R. G., et al. (2020). Role of Vascular Assessment in the Management of Diabetic Foot Ulcers. Journal of Vascular Surgery. Hunt, S. D., et al. (2021). Advanced Doppler Ultrasound Techniques in Peripheral Vascular Assessment. Medical Device Reports. WOCN Society (2019). Clinical Guideline: Management of Wounds in Patients with Lower-Extremity Arterial Disease. Wound, Ostomy and Continence Nurses Society. Hinchliffe, R. J., et al. (2016). IWGDF Guidance on the Diagnosis, Prognosis and Management of Peripheral Artery Disease in Patients with Foot Ulcers in Diabetes. International Working Group on the Diabetic Foot (IWGDF). Kemenkes RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Kaki Diabetik.
Updated: 20 Jan 2026
Baca lebih lanjut
Temanggung, 29 Juli – 1 Agustus — Akademi Keperawatan (Akper) Al-Kautsar Temanggung kembali menunjukkan komitmennya dalam peningkatan kualitas kompetensi tenaga kesehatan melalui penyelenggaraan Pelatihan Certified Wound Care Clinician Associate (CWCCA) bekerja sama dengan Wocare Indonesia. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini menghadirkan suasana belajar yang interaktif, aplikatif, dan berorientasi praktik langsung. Peserta mengikuti rangkaian materi yang mencakup konsep dasar perawatan luka modern, pemilihan dressing, manajemen infeksi, hingga penatalaksanaan luka kronis sesuai standar praktik terbaru. Dalam sesi kelas, peserta mendapatkan pemahaman mendalam dari instruktur Wocare Indonesia mengenai prinsip penilaian luka, decision-making klinis, serta penerapan evidence-based practice di berbagai setting pelayanan keperawatan. Kegiatan semakin lengkap dengan sesi demonstrasi dan praktik, termasuk teknik perawatan luka, pengenalan alat, serta simulasi penerapan dressing yang tepat pada berbagai kasus. Selain memperkuat kompetensi teknis, pelatihan CWCCA ini juga dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi kasus-kasus luka yang kompleks. Peserta mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi, mengerjakan studi kasus, hingga melakukan evaluasi praktik langsung dengan pendampingan instruktur. Pihak Akper Al-Kautsar menilai bahwa pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan tenaga kesehatan yang mampu merespons tantangan perawatan luka di berbagai fasilitas pelayanan. Kolaborasi ini diharapkan dapat berlanjut sebagai program pengembangan kompetensi yang berkelanjutan. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, para peserta kini dibekali sertifikasi CWCCA sebagai penguatan kredibilitas profesional dan pembeda penting dalam praktik keperawatan modern. Wocare Indonesia membuka kesempatan kerja sama untuk in-house training CWCCA bagi rumah sakit, klinik, puskesmas, sekolah keperawatan, maupun institusi pendidikan kesehatan lainnya. 💠Pelatihan bersertifikat nasional 💠Kurikulum komprehensif & aplikatif 💠Instruktur berpengalaman di wound care 💠Dapat disesuaikan dengan kebutuhan institusi
Updated: 28 Nov 2025
Baca lebih lanjutTidak ada gambar tersedia
CIREBON — Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMADA) Cirebon sukses menyelenggarakan Pelatihan Certified Wound Care Clinician Associate (CWCCA) pada 18–21 Agustus, sebuah pelatihan inhouse yang dirancang khusus untuk memperkuat kompetensi dasar perawatan luka modern di kalangan mahasiswa kesehatan dan tenaga medis pemula. Kegiatan empat hari ini menarik antusiasme luar biasa dari 50 peserta, yang aktif mengikuti setiap sesi sejak hari pertama. Pelatihan ini dipandu oleh enam tenaga pelatih berpengalaman yang telah lama berkecimpung dalam praktik perawatan luka di berbagai fasilitas kesehatan. Kehadiran para instruktur profesional ini menjadikan suasana pelatihan semakin dinamis, aplikatif, dan sarat dengan wawasan klinis terbaru. Fokus pada Pengkajian Luka dan Teknik Berbasis Evidence Salah satu materi inti yang mendapatkan perhatian besar peserta adalah pengenalan pengkajian luka menggunakan WINNERS Scale. Metode ini membantu perawat menilai kondisi luka secara lebih komprehensif sehingga mampu menentukan intervensi yang tepat dan terukur. Selain materi teori, para peserta juga mengikuti workshop perawatan luka berbasis evidence terbaru, termasuk teknik moist wound healing, pemilihan balutan modern, penanganan luka kronis, dan aplikasi dressing yang benar. Semangat Belajar Tinggi, UMADA Komitmen Tingkatkan Kompetensi Klinis Di sepanjang kegiatan, ruang pelatihan dipenuhi energi belajar yang positif. Para peserta menilai pelatihan CWCCA ini sangat relevan dengan kebutuhan praktik klinis, karena memberikan dasar yang kuat dalam penatalaksanaan luka modern yang aman dan efektif. Pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen universitas dalam meningkatkan kompetensi lulusan dan praktisi kesehatan, sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih profesional dan berbasis standar internasional. Mari ikuti dan Adakan Inhouse Training Perawatan Luka bersama dengan Wocare Indonesia
Updated: 19 Nov 2025
Baca lebih lanjutTidak ada gambar tersedia
Belitung, 13 Juni 2025 — Pelatihan Inhouse Training Certified Wound Care Clinician Associate Program (CWCCAP) yang diselenggarakan oleh Wocare Indonesia dengan RSUD Marsidi Judon, kegiatan yang berlangsung pada 10–13 Juni 2025 ini diikuti oleh 25 peserta dari RSUD Marsidi Judono. Pelatihan berjalan dengan penuh antusiasme. Para peserta mendapatkan pembekalan ilmu dan praktik langsung mengenai penanganan luka akut maupun kronis berbasis evidence-based practice. Materi yang diberikan mencakup penilaian luka, pemilihan balutan yang tepat, teknik perawatan modern, hingga edukasi pasien. Salah satu peserta menyampaikan pengalaman berkesannya selama mengikuti pelatihan: "...ternyata pengalaman-pengalaman kita yang kemarin itu masih jauh dan perlu di-upgrade lagi. Setelah mengikuti pelatihan ini, kita jadi tahu hal-hal apa yang bisa dilakukan untuk perawatan luka yang baik dan benar..." Ini menggambarkan manfaat pelatihan dalam meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, khususnya perawat yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka pasien. Melalui pelatihan ini, perawat menjadi lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan kepada pasien karena telah memiliki keterampilan dan pengetahuan yang lebih komprehensif terkait perawatan luka. Peningkatan kompetensi tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam peningkatan mutu layanan kesehatan di Belitung dan sekitarnya. Wocare Indonesia melalui program CWCCAP berkomitmen terus mendukung pengembangan keahlian tenaga kesehatan di seluruh Indonesia, sehingga standar perawatan luka semakin baik, aman, dan sesuai perkembangan ilmiah terbaru. Bangun tim perawat yang kompeten dan siap menghadapi kasus luka kompleks! Hubungi Wocare Indonesia dan jadwalkan In-House CWCCAP Training di tempat Anda. Klik untuk Diskusi dengan kami tentang Inhouse Training
Updated: 04 Nov 2025
Baca lebih lanjut
Sebagai bentuk komitmen dan upaya terciptanya tenaga kesehatan perawat yang unggul dan siap untuk terjun ke lapangan, Universitas Nasional berkolaborasi dengan Wocare Indonesia baru saja menyelanggarakan Inhouse Training CWCCA (Certified Wound Care Clinician Associate) yang diselenggarakan pada 17–20 September 2025. Selama empat hari pelatihan intensif, para mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari perkuliahan biasa. Mereka tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga langsung teknik penilaian, pembersihan, dan penatalaksanaan luka sesuai dengan evidence-based practice terkini. Dengan pendekatan interaktif, peserta dilatih dalam menentukan intervensi yang tepat bagi setiap kondisi luka pasien. Pelatihan CWCCA ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. Di tengah meningkatnya kasus luka kronis seperti ulkus diabetik, dekubitus, dan luka pasca operasi, tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi perawatan luka modern sangat dibutuhkan. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya mampu melakukan tindakan secara teknis, tetapi juga memahami prinsip ilmiah dan etik dalam perawatan luka komprehensif. Dengan semangat belajar dan bimbingan dari para fasilitator berpengalaman, mahasiswa Universitas Nasional kini selangkah lebih siap menjadi tenaga kesehatan profesional yang mampu memberikan pelayanan perawatan luka yang aman, efektif, dan manusiawi. Pelatihan CWCCA sendiri merupakan sebuah pelatihan luka dasar yang ada sejak tahun 2013 yang disusun oleh Wocare Inti Nusantara. Pelatihan ini berfokus pada peningkatan keterampilan merawat luka yang sesuai dengan keterampilan rawat luka modern. Saat ini telah ada 25.000 lebih alumni di seluruh Indonesia. Klik untuk tahu lebih lanjut #PelatihanPerawatanLuka #PelatihanPerawatanLukaModern
Updated: 24 Oct 2025
Baca lebih lanjut
Bogor, 29 Juli 2025 – Sebuah pencapaian luar biasa dirayakan oleh WOCARE bersama tujuh orang pasiennya. Dalam beberapa pekan terakhir, tujuh pasien yang sebelumnya berjuang melawan luka kaki diabetes yang kompleks, secara resmi dinyatakan sembuh setelah menjalani program perawatan intensif. Kisah mereka menjadi bukti nyata bahwa dengan penanganan yang tepat dan semangat pantang menyerah, kesembuhan bukanlah hal yang mustahil. Para pasien ini datang ke WOCARE dengan kondisi luka yang beragam, mulai dari infeksi ringan hingga luka kronis yang berisiko amputasi. Perjuangan melawan luka kaki diabetes tidak hanya menyakitkan secara fisik, tetapi juga menguras emosi dan finansial. Namun, mereka semua memiliki satu tujuan yang sama: untuk bisa kembali berjalan dan beraktivitas normal. "Menangani luka kaki diabetes membutuhkan pendekatan holistik dan metode perawatan luka terkini dan modern. Ini bukan sekadar membersihkan luka," ujar Ns. Rifa Qidya Ardi, selaku Koordinator WOCARE Pusat, kami menggabungkan keahlian klinis dengan teknologi perawatan terkini untuk mempercepat regenerasi jaringan dan mencegah infeksi. Keberhasilan menyembuhkan tujuh pasien ini secara bersamaan adalah buah dari kerja keras tim dan, yang terpenting, kepatuhan serta semangat luar biasa dari para pasien itu sendiri." Selama masa perawatan, dukungan dari keluarga menjadi pilar kekuatan bagi para pasien. Ditambah dengan lingkungan perawatan yang suportif dari seluruh tim perawat Wocare, proses pemulihan menjadi lebih optimal. Ny.Hj. Suntari salah satu dari tujuh pasien yang telah pulih, tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. "Saya hampir putus asa melihat kondisi kaki saya. Tapi perawat di WOCARE terus memberikan semangat dan merawat luka saya dengan sabar setiap hari. Terima kasih WOCARE, berkat kalian saya tidak jadi diamputasi dan bisa berjalan lagi. Bagi teman-teman lain yang mengalami hal serupa, jangan menyerah, ada harapan," tuturnya penuh syukur. Keberhasilan ini menegaskan kembali komitmen WOCARE sebagai pusat layanan pusat perawatan luka, stoma dan inkontinensia terdepan. Kisah tujuh pasien ini menjadi inspirasi dan menyalakan harapan bagi ribuan penderita diabetes lainnya di Indonesia yang sedang berjuang dengan komplikasi luka. WOCARE akan terus berinovasi dan mendedikasikan diri untuk memberikan solusi perawatan luka terbaik agar lebih banyak lagi kisah kesembuhan yang tercipta. Tentang Wocare: WOCARE adalah layanan perawatan luka, stoma dan inkontinensia yang berfokus pada penanganan luka akut seperti luka post operasi, luka jatuh, luka kecelakaan dan luka kronis seperti luka kaki diabetes, luka tekan (dekubitus), dan luka bakar, luka kanker, luka akibat gangguan pembuluh darah vena dan arteri, luka kronis lainnya. Dengan menggunakan metode perawatan luka modern dan didukung oleh tim perawat yang tersertifikasi, WOCARE berkomitmen untuk memberikan hasil pemulihan yang optimal dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Updated: 29 Jul 2025
Baca lebih lanjut
Berawal dari ketertarikannya di bidang keperawatan, I Made Aditiasthana mengikuti program CWCCA (Certified Wound Care Clinician Associate) di Wocare Center, merupakan program perawatan luka akut maupun kronis yang sudah terakreditasi Kementerian Kesehatan. Pada pelatihan tersebut, materi yang diberikan mengenai perawatan luka seperti anatomi fisiologi dasar dan proses penyembuhan luka, pengkajian luka, persiapan dasar luka, pemilihan balutan, perawatan luka kronis (luka diabetes, luka pressure ulcer, dan luka kanker), dan perawatan luka akut seperti luka operasi. Pelatihan CWCCA mengembangkan kualitas perawatan luka baik di puskesmas, rumah sakit, dan praktik mandiri, selain itu guna menyelamatkan pasien dengan permasalahan amputasi, karena kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye Stop Amputasi. Dari program tersebutlah, I Made Aditya Asthana mengembangkan ilmunya menjadi praktik mandiri perawatan luka. Pasien pertama yang datang adalah pasien luka diabetes. (I Made Aditiasthana bersama Ns. Kana Fajar) “Pasien saya yang pertama hanya mampu membayar 50.000. seiring waktu karena pasien pertama yang saya temukan adalah orang tidak mampu, di tahun 2016 saya memutuskan merawat pasien dengan luka diabetes tanpa tarif” ujar I Made kepada Ns. Kana Fajar di Wocare Vlog. Selama itu, banyak pasien yang datang ke rumah I Made untuk perawatan luka dan tidak dikenakan tarif, hanya bayar seikhlasnya bahkan gratis. Tahun demi tahun, ternyata permasalahan luka tidak sampai disitu saja, I made mulai mendapati pasien yang sudah diamputasi akibat luka diabetes. “Sekitar 15-20% pasien luka diabetes di daerah saya beresiko tinggi untuk diamputasi kaki, saat sudah diamputasi itu kayaknya akhir dari segalanya bagi pasien kita. Sudah kepotong dan tidak bekerja” (Pande Made Beni Ariadi, pembuat kaki palsu) Dari permasalah tersebutlah, I made bertemu dengan sahabatnya, Pande Made Beni Ariadi dan terbentuklah Yayasan Kaki Kita Senusantara pada 31 oktober 2019 tepatnya di Bali, dengan visi misi meringankan beban pasien diabetes yang mengalami amputasi kaki. “Dulu namanya Yayasan Kaki Kita Sukasada. Sukasada itu adalah sebuah kecamatan, tapi kita berpikiran bahwa program kami gak hanya se-kecamatan saja, maka dari itu kami ubah jadi senusantara dengan harapan tidak hanya di bali saja, tetapi programnya bisa dilakukan di seluruh nusantara, karena masalah amputasi dan luka diabetes ada dimana-mana” (Pemasangan kaki palsu kepada pasien amputasi) Sudah lebih dari 1000 pasien dengan luka diabetes berhasil ditangani oleh Yayasan Kaki Kita Senusantara, sekitar 20-40% adalah pasien sosial yaitu pasien yang mendapatkan keringanan biaya. Lalu untuk pasien yang sudah amputasi berkisar 15-20%. YKKS juga sudah membantu 28 pasien amputasi dengan memberikan alat bantu jalan atau kaki palsu. (Tim YKKS membantu pasien berjalan dengan kaki palsu) Yayasan Kaki Kita Se-nusantara memiliki tiga program yaitu Perawatan Sosial untuk pasien luka diabetes, Pembuatan Kaki Palsu, dan Pemberdayaan Disabilitas yang berusia produktif dengan mempekerjakan mereka untuk membuat kaki palsu dari hasil daur ulang sampah plastik, salah satunya tutup botol. Selain harga yang terjangkau, tindakan tersebut menjadi inovasi dan solusi bagi permasalahan sampah yang meningkat. Tidak sampai disitu saja, YKKS memiliki unit usaha yaitu daur ulang sampah plastik dengan nama KarFa (Karya Difabel dan untuk Difabel). Tujuan tersebut untuk pemberdayaan disabilitas yang saat ini sudah mempekerjakan sebanyak 12 orang dan 4 diantaranya adalah disabilitas, serta keuntungan sebesar 25% didonasikan untuk program YKKS. Gerakan kebaikan yang penuh inovasi berjalan berdampingan dengan harapan. Yayasan tersebut berharap dapat bekerja sama dengan para dokter bedah untuk membantu serta memberi dukungan kepada pasien amputasi “Yayasan ini semakin besar apalagi bisa bekerja sama dengan dokter bedah di program kaki palsu, ketika ada pasien amputasi bisa kami bantu secara psikis juga bahwa kami punya yayasan kaki palsu.” Ujar I made kepada Wocare Vlog.
Updated: 21 Jul 2025
Baca lebih lanjut
INDONESIAN ETNEP DAN WOCARE BUKAN HANYA TEMPAT BELAJAR TAPI TEMPAT BERTUMBUH Tim student dari Indonesian Enterostomal Therapy Nursing Education Program (ETNEP) berhasil meraih kemenangan pada ajang Asia PacificEnterostomal Therapy Nursing Association (APETNA) Conference yang digelar di Penang, Malaysia. Tim ini berisi Ns. Fajrul Akbar, Ns. Indah Widya, dr Shakiroh, dan Ns Carla Sembung yang merupakan student Indonesian ETNEP 2025. Dengan mengusung tema inovatif “Stop the Leak, Heal the Wound”, dalam video competition, tim ini mengusun peningkatan kesadaran masyarakat tentang masalah inkontinensia. Video ini merupakan augmentasi dari praktik lapangan yang digelar oleh Indonesian ETNEP di komunitas. Praktik ini berisikan skrining inkontinensia di komunitas senam di Bogor. Lalu pengajaran senam kegel untuk meningkatkan otot dasar panggul. Selama ini inkontinensia masih dianggap hal yang tabu, tidak banyak orang yang mau berbicara tentang kesehatan BAB dan BAKnya. Oleh karena itu, Indonesian Enterostomal Therapy Nurse Education Program Wocare punya misi besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa inkontinensia atau beser dapat dicegah dan ditreatment tanpa harus menggunakan diapers. “Stop the Leak, Heal the Wound” bukan hanya sekadar slogan — melainkan representasi filosofi ETNEP Indonesia dalam memulihkan kualitas hidup pasien dengan masalah inkontinensia. Pendekatan tim mengintegrasikan assessment klinis yang tajam, pilihan terapi modern, edukasi pasien dan keluarga, serta kolaborasi interprofesional dalam upaya penyembuhan dan pencegahan komplikasi. Kemenangan ini menjadi simbol semangat, kompetensi, dan daya saing perawat Indonesia di kancah internasional. Tidak hanya membanggakan, capaian ini juga menunjukkan bahwa ETNEP Indonesia berperan nyata dalam membentuk perawat spesialis yang siap menjawab tantangan global dalam Luka Stoma dan Inkontinensia. Kemenangan ini diharapkan menjadi pemicu semangat bagi perawat-perawat muda lainnya di seluruh Indonesia untuk terus meningkatkan kapasitas, berinovasi, dan berkontribusi nyata dalam dunia kesehatan – baik di dalam negeri maupun di dunia internasional. Koordinator Program Indonesian ETNEP 2025 Ns. Pipit Lestari Informasi lebih tentang Indonesian ETNEP dapat diakses melalui http:// https://wocare.id/diklat/kategori.php?id=1 #StopTheLeakHealTheWound #ETNEPIndonesia #BanggaPerawatIndonesia #APETNAConference2025 Jika Anda ingin saya bantu ubah ini ke dalam format newsletter, press release, atau media s
Updated: 07 Jul 2025
Baca lebih lanjut
Penang, Malaysia – Juli 2025 Kepedulian dan kepakaran Indonesia dalam manajemen luka bencana kembali mendapat pengakuan di level internasional. Dalam ajang Asia Pacific Enterostomal Therapy Nurses Association (APETNA) Conference 2025 yang diselenggarakan di Penang, Malaysia, Wocare Indonesia dan Indonesian Wound, Ostomy, and Continence Care Association (INWCCA) turut berkontribusi aktif sebagai bagian dari penyelenggara dan fasilitator utama dalam Workshop “Disaster Wound Management.” Workshop ini menjadi bagian dari pre-conference workshop yang diadakan pada tanggal 03/07/2025 di SPICE Penang. Kegiatan ini menghadirkan para praktisi dan ahli keperawatan luka dari seluruh kawasan Asia Pasifik. Fokus utama workshop adalah peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam menghadapi tantangan penanganan luka pada kondisi darurat bencana. Wocare Indonesia dan INWCCA menghadirkan simulasi langsung penanganan luka di lokasi bencana, termasuk penggunaan alat-alat sederhana yang mudah dijangkau di lapangan, penilaian luka cepat, dan penanganan awal berbasis prioritas kegawatdaruratan, serta management sumber daya di saat kondisi bencana. Materi yang disampaikan berasal dari pengalaman lapangan tim Indonesia dalam merespons berbagai bencana alam, seperti gempa bumi di Palu Sulawesi Tengah. Peserta workshop, yang berasal dari negara-negara seperti Australia, Jordan, Hongkong dan Malaysia. Keterlibatan Wocare Indonesia dan INWCCA di ajang internasional ini menjadi bukti bahwa keperawatan luka Indonesia semakin diperhitungkan di tingkat global. Workshop ini dapat dipelajari di Indonesia dan merupakan bagian dari kompetensi yang ada di program Certified Wound Care Clincian. Ikuti Kelas berstandar Nasional dan Internasional Certified Wound Care Clinciian Program Informasi lebih lanjut klik https://wocare.id/diklat/detail_diklat.php?id=133 #WocareTraining Tempat Bertumbuh #WocareIndonesia #INWCCA #APETNA2025 #DisasterWoundCare #BanggaPerawatIndonesia
Updated: 07 Jul 2025
Baca lebih lanjut
Bogor, 27 Juni 2025 – Kota Bogor kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung komunitas ostomate dengan sukses menyelenggarakan Stoma Care Week 2025. Acara yang berlangsung meriah ini secara resmi dibuka oleh Wali Kota Bogor, Bapak Dedie A. Rachim, M.A, yang sekaligus menyampaikan kata sambutannya di hadapan para peserta, tenaga kesehatan, dan tamu undangan dari berbagai instansi dan organisasi. Mengangkat semangat inklusivitas dan kepedulian terhadap para ostomate, Stoma Care Week 2025 menjadi tonggak penting dalam sejarah pelayanan stoma di Indonesia. Dalam acara ini pula dilakukan peresmian Museum Ostomi Indonesia sebagai pusat edukasi dan dokumentasi perjalanan ostomate di tanah air. Museum ini diharapkan menjadi ruang belajar dan inspirasi bagi masyarakat luas tentang kehidupan dengan stoma. Tak hanya itu, peluncuran resmi Ostomate Card juga menjadi salah satu highlight dalam acara ini. Kartu ini dirancang untuk mempermudah akses dan pelayanan kesehatan bagi para ostomate di berbagai fasilitas kesehatan, sekaligus menjadi simbol pengakuan terhadap kebutuhan khusus mereka. Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Kota Bogor, Ibu Sri Deviyanti Andayana Dedie A. Rachim, turut memberikan sambutan hangat dalam kesempatan tersebut. Beliau menegaskan komitmen YKI dalam mendampingi para ostomate melalui layanan dan edukasi berkelanjutan. Dengan mengusung slogan “Kota Bogor Sayang Ostomate”, Kota Bogor diharapkan menjadi pelopor kota ramah ostomate di Indonesia. Acara ini juga turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, antara lain: Bapak Anang Suryana, S.Kom., MARS, Deputi 2 Bidang Kesehatan Kemenko PMK RI dr. Sri Nowo Retno, M.A.R.S, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Perwakilan dari INOA (Indonesia Ostomy Association) sekaligus Bapak Ostomi Indonesia Dr. Benny Philippi, Sp.B., Subsp. BD(K) Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk, M.Epid, MARS, Mewakili Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat H. Yoyo Haryono, SKp, M.Kep, Ketua PPNI Kota Bogor Stoma Care Week 2025 menghadirkan serangkaian kegiatan edukatif dan inspiratif, mulai dari seminar kesehatan, workshop perawatan stoma, hingga sesi berbagi pengalaman dari para ostomate. Kehadiran berbagai pihak lintas sektor menjadi bukti nyata bahwa sinergi sangat diperlukan dalam mendukung kualitas hidup ostomate. Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan pemahaman masyarakat tentang kehidupan dengan stoma semakin meningkat dan dukungan terhadap komunitas ostomate semakin luas. Kota Bogor pun terus melangkah sebagai kota yang inklusif, peduli, dan ramah bagi semua. #BogorSayangOstomate #StomaCareWeek2025 #YayasanKankerIndonesia #StomaIndonesia #Wocare #WocareSahabatOstomate
Updated: 30 Jun 2025
Baca lebih lanjut
Halo Sobat WOCARE! Menyambut bulan April yang cerah dan semangat kesehatan, WOCARE Bogor hadir dengan PROMO spesial perawatan luka untuk Anda yang membutuhkan. Jangan biarkan luka menghambat aktivitas sehari-hari. Tim ahli WOCARE siap memberikan layanan terbaik dengan produk berkualitas untuk berbagai jenis perawatan luka, mulai dari luka ringan hingga luka kompleks seperti luka operasi dan luka diabetes. Ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan perawatan profesional yang dapat mempercepat proses penyembuhan Anda. Yuk, jangan tunda lagi! Segera manfaatkan promo spesial "April Sehat" dari WOCARE Bogor. Buat janji temu Anda sekarang juga dan rasakan manfaatnya langsung. Anda bisa mengunjungi WOCARE Bogor di Jl. Kh Sholeh Iskandar No 9 Cibadak, Tanah Sereal, Kota Bogor, atau menghubungi kami melalui nomor telepon 081280003814. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk mendapatkan perawatan luka terbaik demi kesehatan Anda. Syarat dan Ketentuan Berlaku. #wocare #wocarebogor #wocarecentre #perawatanluka #perawatanlukamodern #perawatanlukadiabetes #bogor #Info
Updated: 19 Apr 2025
Baca lebih lanjut
[Bogor, 13 Februari 2025] – Wocare, institusi inovatif di bidang perawatan luka, telah masuk dalam nominasi penghargaan bergengsi "Innovation in Wound Care" dan "Compression Therapy for Venous and Lymphatic Disorders" pada ajang Journal of Wound Care Awards 2025 yang akan diselenggarakan di London, Inggris. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan internasional atas kontribusi Wocare dalam pengembangan solusi perawatan luka yang efektif dan berbasis inovasi. Journal of Wound Care Awards 2025 merupakan ajang bergengsi yang mempertemukan para pemimpin industri, peneliti, dan praktisi kesehatan dari berbagai negara untuk berbagi pengetahuan serta memperkenalkan inovasi terbaru di bidang perawatan luka. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada acara puncak di London pada 14 Februari 2025. Nominasi ini menegaskan komitmen Wocare dalam menghadirkan solusi perawatan luka yang berbasis bukti dan teknologi mutakhir, serta mendukung peningkatan kualitas hidup pasien dengan perawatan yang lebih efektif. Melalui pengakuan ini, Wocare menunjukkan perannya sebagai salah satu pelopor dalam industri perawatan luka di Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global. Keikutsertaan dalam Journal of Wound Care Awards 2025 menjadi langkah penting dalam memperluas kontribusi dan kolaborasi internasional di bidang perawatan luka yang terus berkembang. Wocare merupakan institusi yang berfokus pada pelayanan, pengembangan, edukasi, dan penerapan teknologi terbaru dalam perawatan luka. Dengan pendekatan berbasis bukti dan kerja sama dengan para ahli kesehatan, Wocare terus berinovasi untuk mendukung layanan kesehatan yang lebih baik di Indonesia dan dunia. Masuknya Wocare dalam nominasi Journal of Wound Care Awards 2025 merupakan pencapaian signifikan yang mencerminkan komitmen dan dedikasi dalam menghadirkan inovasi di bidang perawatan luka. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa inovasi dan keunggulan dalam layanan kesehatan dapat memberikan dampak positif di tingkat global. Wocare - 2025
Updated: 19 Feb 2025
Baca lebih lanjut
Berita dari Asian Society of Stoma Rehabilitation Congress: Wocare Indonesia Memenangkan Video Competetion Case Report Perawatan Stoma Dalam ajang bergengsi Asian Society of Stoma Rehabilitation Congress (ASSR Congress), even dua tahunan yang kali ini berlangsung di Kota Kinabalu, Wocare Indonesia berhasil meraih penghargaan dalam Video Competition Case Report Perawatan Stoma. Video competition ini dinilai berdasarkan Kreativitas, konten video yang aplikatif dan inovatif. Prestasi ini menjadi bukti bahwa ET Nurse dari Indonesia merupakan ET yang kompeten dan inovatif di Tengah resources yang terkdang terbatas, tanpa mempertaruhkan keselamatan pasien dan kualitas layanan. Kompetisi ini diikuti oleh tim dari Malaysia dan Indonesai, dengan fokus pada inovasi serta efektivitas dalam perawatan stoma. Video yang diajukan oleh Wocare Indonesia menampilkan teknik perawatan yang inovatif dan efektif menggunakan NPWT dan Teknik sealing pada kasus Enterocutaneous Fistula. Menurut perwakilan Wocare Indonesia, keberhasilan ini menunjukkan bahwa ET Nurse Indonesia dapat bersaing di kancah Asia,. Asian Society of Stoma Rehabilitation Congress sendiri merupakan acara dua tahunan yang mempertemukan ET Nurse berbagai negara untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam bidang rehabilitasi stoma. Melalui forum ini, diharapkan inovasi-inovasi terbaru dalam perawatan stoma dapat terus dikembangkan demi meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan kemenangan ini, Wocare Indonesia berharap dapat terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu perawatan stoma di Indonesia serta menjalin kolaborasi lebih luas dengan komunitas medis internasional. Penghargaan ini juga menjadi motivasi bagi tenaga medis Indonesia untuk terus meningkatkan kompetensi dalam bidang perawatan luka dan rehabilitasi pasien dengan kondisi khusus seperti stoma.
Updated: 19 Feb 2025
Baca lebih lanjut
Indonesia, sebagai negara dengan populasi yang besar dan beragam, menghadapi tantangan dalam bidang kesehatan, terutama dalam perawatan pasien dengan kondisi kompleks seperti stoma, luka, dan inkontinensia. Untuk menjawab kebutuhan ini, program pendidikan Enterostomal Therapy Nurse Education Program (ETNEP) yang dikenal dengan Indonesian ETNEP dikembangkan oleh CORPORATE UNIVERSITY OF WOCARE INDONESIA hadir sebagai solusi inovatif. Indonesian ETNEP dimulai oleh ibu Widasri Sri Gitarja belajar program Wound, Ostomy and Continence di Prince Margareth Hospital Hongkong pada tahun 1997. Dengan membawa Ilmu Baru dibidang Wound, Ostomy and Continence yang diperoleh Ibu Widasri Sri Gitarja mengajak perawat Indonesia belajar bersama dan mengembangkan program tersebut. Perjalanan Panjang beliau membawa Ibu Widasri Sri Gitarja S.Kp., MM., MARS., WOC (ET)N sebagai Director Program of Indonesian ETNEP, perjalanan beliau dalam Wound, Ostomy and Continence menjadi pelatihan pertama di Indonesia yang mendapatan rekognisi dari Badan Dunia WCET (World Council of Enterostomal Therapists) hingga sekarang. Program ini dirancang khusus untuk meningkatkan kompetensi perawat dalam merawat pasien dengan Luka, Stoma dan Kontinensia, sekaligus membuka peluang karier yang lebih luas bagi para perawat di Indonesia. Indonesian ETNEP adalah program pendidikan yang berfokus pada pengembangan keterampilan perawat dalam bidang Wound, Ostomy, dan Continence (WOC). Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis tetapi juga pelatihan praktis yang mendalam. Dengan kurikulum yang komprehensif, perawat diajarkan untuk memahami anatomi, fisiologi, serta teknik perawatan terkini untuk pasien dengan stoma, luka kronis, dan masalah inkontinensia. Hal ini menjadikan Indonesian ETNEP sebagai program unggulan dalam dunia keperawatan di Indonesia. Salah satu tujuan utama Indonesian ETNEP adalah meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan adanya perawat yang terlatih khusus dalam bidang Wound, Ostomy and Continence, pasien dapat menerima perawatan yang lebih holistik dan efektif. Perawat yang mengikuti program ini dibekali dengan kemampuan untuk melakukan asesmen yang akurat, merencanakan perawatan yang tepat, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga. Dampaknya, angka komplikasi dan tingkat keparahan kondisi pasien dapat diminimalisir. Program Indonesian ETNEP juga membuka peluang karier yang lebih cerah bagi perawat. Setelah menyelesaikan program ini, perawat dapat memperoleh dua sertifikasi Internasional yang dikeluarkan oleh Badan Dunia Enterostomal atau yang dikenal dengan WCET (World Council of Enterostomal Therapists) dan sertifikasi Nasional oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Sertifikasi ini tidak hanya meningkatkan nilai profesional mereka tetapi juga membuka pintu untuk bekerja di institusi kesehatan ternama, baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, perawat WOC(ET)N juga memiliki kesempatan untuk menjadi konsultan atau edukator dalam bidang Wound, Ostomy, and Continence, yang semakin memperluas jenjang karier mereka. Peserta program Indonesian ETNEP tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis tetapi juga dikembangkan soft skill-nya. Kemampuan komunikasi, empati, dan kepemimpinan menjadi fokus penting dalam program ini. Hal ini karena perawat WOC(ET)N tidak hanya berinteraksi dengan pasien tetapi juga harus bekerja sama dengan tim medis lainnya. Dengan soft skill yang mumpuni, perawat dapat memberikan pelayanan yang lebih manusiawi dan efektif. Program Indonesian ETNEP juga mendorong perawat untuk terus mengembangkan diri melalui penelitian dan inovasi. Peserta diajak untuk terlibat dalam proyek-proyek penelitian yang bertujuan untuk menemukan metode perawatan baru atau meningkatkan metode yang sudah ada. Dengan demikian, perawat tidak hanya menjadi praktisi tetapi juga kontributor dalam perkembangan ilmu keperawatan. Selain manfaat bagi perawat, program Indonesian ETNEP juga memberikan dampak positif bagi institusi kesehatan. Rumah sakit atau klinik yang memiliki perawat WOC(ET)N dapat meningkatkan kualitas pelayanannya, yang pada akhirnya akan meningkatkan reputasi institusi tersebut. Pasien pun akan lebih percaya dan merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan, sehingga loyalitas pasien terhadap institusi kesehatan tersebut juga meningkat. Secara keseluruhan, Indonesia Enterostomal Therapy Nurse Education Program dari CORPORATE UNIVERSITY OF WOCARE INDONESIA adalah langkah maju dalam dunia keperawatan Indonesia. Program ini tidak hanya meningkatkan kompetensi perawat tetapi juga membuka peluang karier yang lebih luas. Dengan dukungan dari berbagai pihak, Indonesian ETNEP dapat menjadi tonggak penting dalam transformasi pelayanan kesehatan di Indonesia, menuju standar yang lebih tinggi dan lebih profesional. Indonesia, sebagai negara dengan populasi yang besar dan beragam, menghadapi tantangan dalam bidang kesehatan, terutama dalam perawatan pasien dengan kondisi kompleks seperti stoma, luka, dan inkontinensia. Untuk menjawab kebutuhan ini, program pendidikan Enterostomal Therapy Nurse Education Program (ETNEP) yang dikenal dengan Indonesian ETNEP dikembangkan oleh CORPORATE UNIVERSITY OF WOCARE INDONESIA hadir sebagai solusi inovatif. Indonesian ETNEP dimulai oleh ibu Widasri Sri Gitarja belajar program Wound, Ostomy and Continence di Prince Margareth Hospital Hongkong pada tahun 1997. Dengan membawa Ilmu Baru dibidang Wound, Ostomy and Continence yang diperoleh Ibu Widasri Sri Gitarja mengajak perawat Indonesia belajar bersama dan mengembangkan program tersebut. Perjalanan Panjang beliau membawa Ibu Widasri Sri Gitarja S.Kp., MM., MARS., WOC (ET)N sebagai Director Program of Indonesian ETNEP, perjalanan beliau dalam Wound, Ostomy and Continence menjadi pelatihan pertama di Indonesia yang mendapatan rekognisi dari Badan Dunia WCET (World Council of Enterostomal Therapists) hingga sekarang. Program ini dirancang khusus untuk meningkatkan kompetensi perawat dalam merawat pasien dengan Luka, Stoma dan Kontinensia, sekaligus membuka peluang karier yang lebih luas bagi para perawat di Indonesia. Indonesian ETNEP adalah program pendidikan yang berfokus pada pengembangan keterampilan perawat dalam bidang Wound, Ostomy, dan Continence (WOC). Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis tetapi juga pelatihan praktis yang mendalam. Dengan kurikulum yang komprehensif, perawat diajarkan untuk memahami anatomi, fisiologi, serta teknik perawatan terkini untuk pasien dengan stoma, luka kronis, dan masalah inkontinensia. Hal ini menjadikan Indonesian ETNEP sebagai program unggulan dalam dunia keperawatan di Indonesia. Salah satu tujuan utama Indonesian ETNEP adalah meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan adanya perawat yang terlatih khusus dalam bidang Wound, Ostomy and Continence, pasien dapat menerima perawatan yang lebih holistik dan efektif. Perawat yang mengikuti program ini dibekali dengan kemampuan untuk melakukan asesmen yang akurat, merencanakan perawatan yang tepat, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga. Dampaknya, angka komplikasi dan tingkat keparahan kondisi pasien dapat diminimalisir. Program Indonesian ETNEP juga membuka peluang karier yang lebih cerah bagi perawat. Setelah menyelesaikan program ini, perawat dapat memperoleh dua sertifikasi Internasional yang dikeluarkan oleh Badan Dunia Enterostomal atau yang dikenal dengan WCET (World Council of Enterostomal Therapists) dan sertifikasi Nasional oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Sertifikasi ini tidak hanya meningkatkan nilai profesional mereka tetapi juga membuka pintu untuk bekerja di institusi kesehatan ternama, baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, perawat WOC(ET)N juga memiliki kesempatan untuk menjadi konsultan atau edukator dalam bidang Wound, Ostomy, and Continence, yang semakin memperluas jenjang karier mereka. Peserta program Indonesian ETNEP tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis tetapi juga dikembangkan soft skill-nya. Kemampuan komunikasi, empati, dan kepemimpinan menjadi fokus penting dalam program ini. Hal ini karena perawat WOC(ET)N tidak hanya berinteraksi dengan pasien tetapi juga harus bekerja sama dengan tim medis lainnya. Dengan soft skill yang mumpuni, perawat dapat memberikan pelayanan yang lebih manusiawi dan efektif. Program Indonesian ETNEP juga mendorong perawat untuk terus mengembangkan diri melalui penelitian dan inovasi. Peserta diajak untuk terlibat dalam proyek-proyek penelitian yang bertujuan untuk menemukan metode perawatan baru atau meningkatkan metode yang sudah ada. Dengan demikian, perawat tidak hanya menjadi praktisi tetapi juga kontributor dalam perkembangan ilmu keperawatan. Selain manfaat bagi perawat, program Indonesian ETNEP juga memberikan dampak positif bagi institusi kesehatan. Rumah sakit atau klinik yang memiliki perawat WOC(ET)N dapat meningkatkan kualitas pelayanannya, yang pada akhirnya akan meningkatkan reputasi institusi tersebut. Pasien pun akan lebih percaya dan merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan, sehingga loyalitas pasien terhadap institusi kesehatan tersebut juga meningkat. Secara keseluruhan, Indonesia Enterostomal Therapy Nurse Education Program dari CORPORATE UNIVERSITY OF WOCARE INDONESIA adalah langkah maju dalam dunia keperawatan Indonesia. Program ini tidak hanya meningkatkan kompetensi perawat tetapi juga membuka peluang karier yang lebih luas. Dengan dukungan dari berbagai pihak, Indonesian ETNEP dapat menjadi tonggak penting dalam transformasi pelayanan kesehatan di Indonesia, menuju standar yang lebih tinggi dan lebih profesional. Uploaded from Kota Kinabalu 16/02/2025
Updated: 16 Feb 2025
Baca lebih lanjut
INWCCA Scientific Meeting dan Diabetes Wound Expo 2024 sukses diselenggarakan di IPB International Convention Centre, Botani Square, Bogor, Indonesia. Acara ini menjadi wadah bagi tenaga kesehatan, akademisi, dan praktisi untuk memperkuat kolaborasi dan inovasi dalam manajemen perawatan luka, stoma, dan inkontinensia, khususnya dalam konteks diabetes. Acara ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 18-20 November 2024. Mengusung tema "Kolaborasi Lintas Disiplin dalam Penatalaksanaan Luka, Stoma, dan Inkontinensia untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien", kegiatan ini menghadirkan berbagai program menarik, seperti sesi plenari, presentasi ilmiah, dan pameran produk kesehatan. Kegiatan ini juga menjadi ajang diskusi ilmiah dan kolaborasi dengan menghadirkan pembicara dari berbagai negara. Para pakar dari Indonesia, Australia, Filipina, Malaysia, dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk berbagi pengetahuan terkini seputar manajemen perawatan luka, stoma, dan inkontinensia, khususnya. Keynote speaker disampaikan secara daring oleh Prof. Dato’. Harikhrishna Nair, Ketua ASEAN Wound Council dan Presiden Malaysian Society of Wound Care Professionals (MSWCP). Dalam presentasinya yang berjudul "From Ulcers to Amputation: Addressing the Critical Issues in Diabetic Foot Care," beliau membahas tantangan dalam menangani komplikasi kaki diabetes dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah akibat yang lebih parah seperti amputasi. Keynote speaker kedua yang turut hadir secara daring adalah Mrs. Gulnaz Tariq, RN, RM, BN, IIWC, CMSc dari UEA, yang menyampaikan materi berjudul "Closing the Competency Gap in Wound Care: Specialized Training as a Catalyst for Advanced Wound Care Practice." Dalam sesi ini, beliau menyoroti pentingnya pelatihan khusus dalam perawatan luka untuk menutup kesenjangan kompetensi dan meningkatkan hasil perawatan pasien. Selain para pembicara daring, acara ini juga menampilkan sejumlah pembicara dari luar negeri yang hadir secara langsung dan berbagi pengetahuan serta riset terbaru dalam berbagai disiplin ilmu perawatan luka. Pembicara internasional tersebut antara lain: Prof. Dr. dr. Azis Nather, yang berbagi pengalaman luasnya di Foot n ankle sebagai profesor di Singapura. Juga Dr. Kylie Sandy-Hodgetts dari Australia, yang membahas tren dan teknologi terbaru dalam penyembuhan luka dan Evidence Base practise. Juga Carol Stott, RN, ETN, BA(HSc), M.Ed (Adult Education), yang menekankan peran pendidikan dan pelatihan dalam meningkatkan praktik perawatan luka di seluruh dunia. Rhyan A Hitalla, RN, ETN dari Filipina, yang berbagi pendekatan inovatif dalam perawatan luka dari konteks lokalnya. Beberapa speaker lainnya yang membagi pengalaman dan pengetahuan dari Mariam Mohd Nassir, Dr. Nizam Ali Husen, Dr. Norlizah Paidi, Dr. Nazhatussima binti Suhaili, Dr. Hanihaselah Binti Mohd Saleh, Dr. Jazly Bin Johari, CCWC dan Abdul Manan Bin Othman Para pembicara tersebut memberikan wawasan penting mengenai manajemen perawatan luka,memastikan bahwa peserta mendapatkan pengetahuan yang komprehensif tentang praktik terbaik dan pendekatan inovatif dalam perawatan luka. President INWCCA Ns. Edy Mulyadi,S.Kep.,WOC(ET)N juga mengucapkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para tokoh dan ahli yang telah berkontribusi dalam mendukung Scientific Meeting and Diabetes Expo 2024, termasuk Prof. Dr. Ir. Nunung Nuryartono, M.Si, Prof. Dr. dr. David S. Perdanakusuma, Sp.BP-RE(K), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD-KEMD, Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc, Prof. Dr. Christantie Effendy, S.Kp., M.Kes, Prof. RR. Tutik Sri Hariyati, S.Kp, MARS, Widasari Sri Gitarja, SKp., MM., MARS., WOC(ET)N, dr. Budhi Arifin Noor, SpB, SubspBVE(K), Dr. Med. dr. Nyityasmono Tri Nugroho, Sp.B.Subsp.BVE(K), dr. Indra Wijaya Putra, Sp.B., FICS., FINACS, dr. Hendi Octary, CWCCA, dr. Salwiyadi, Sp.PD, CWCCA, dr. Lazuardhi Dwipa, Sp.PD(K)er (postpone), dr. Ulul Albab, Sp.OG, dr. Fajar Firsyada, SpB.Subsp.BD(K), Ns. Jajang Rahmat, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Kom, Hana Rizmadewi Agustina, BSN, MN, PhD, Chusnul Justanti, S.Tr.Kes, Ftr M.Kes, dr. Sri Nowo Retno, M.A.R.S. (Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor), serta perwakilan dari Direktorat Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, yang bersama-sama menjadikan acara ini sebagai momentum kolaborasi dan inovasi dalam pengelolaan luka, stoma, dan inkontinensia untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. INWCCA Scientific Meeting mehadirkan 17 sesi Workshop Interkastif skill-based di Workshop ini mencakup berbagai topik, di antara lain 1) Heavy Educating Dehisced Wound: Use of Drain, 2) Care for Enterocutaneous Fistula, 3) Truth May Hurt: Communication Strategy for New Stoma Patient, 4) Pediatric Stoma: Inclusivity in Stoma Appliances, 5) Diabetic Foot Spa, Diabetic Foot Screening, 6) Plantar Pressure Redistribution: Offloading, 7) Perdanakusuma Wound Assessment Tools, 8) Venous Leg Ulcer Best Practice Management, 9) Safe Wound Debridement, 10) Wound Assessment WINNERS Scale, 11) Wound Cleansing, 12) Practical Guide of Wound Infection Assessment and Management, 13) NPWT (Negative Pressure Wound Therapy), 14) Malignant Wound Management, 16) Wound Disaster Management, dan 17) Continence Program & Pelvic Floor Exercise. Setiap workshop dirancang untuk memberikan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam praktik klinis masing masing peserta. Selain itu, salah satu momen penting dalam acara ini adalah Peluncuran Buku "Penatalaksanaan Ulkus Kaki Diabetikum bagi Wound Care Clinician" yang disampaikan oleh Ns. Khairul Bahri, S. Kep., WOC(ET)N. Buku ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan pengetahuan dan praktik klinis terkait manajemen ulkus kaki diabetikum, yang merupakan salah satu tantangan utama dalam perawatan pasien diabetes. Acara juga diisi dengan Upacara Wisuda untuk para lulusan Program Pelatihan Enterostomal Therapy Nurse Education Program (ETNEP) yang telah menyelesaikan pelatihan selama 3 bulan. Para lulusan mendapatkan penghormatan atas pencapaian mereka dalam menjadi seorang Enterostomal Therapy Nurse yang penuh kebanggaan. INWCCA Scientific Meeting dihadiri oleh 300 peserta tenaga kesehatan dan Diabetes Wound Expo 2024 diikuti oleh dan 1000 peserta umum. Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, INWCCA Scientific Meeting dan Diabetes Expo 2024 diharapkan menjadi langkah dalam mengatasi tantangan kesehatan yang kompleks dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
Updated: 12 Feb 2025
Baca lebih lanjut
Bogor, 12 Februari 2025 – WOCARE, fasilitas Kesehatan yang bergerak dalam perawatan luka, perawatan stoma dan perawatan inkontinensia yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat, kembali menunjukkan komitmennya dengan menyelenggarakan layanan pemeriksaan kaki gratis dan edukasi stoma. Acara ini tidak berhasil tanpa adanya dukungan dari ibu Hj. Yusniar Ritonga, SKM., MKM. Acara ini digelar dengan semangat tinggi untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan perhatian khusus dalam perawatan kesehatan. Kegiatan ini diadakan di pusat kota Bogor dan dihadiri oleh payuguban purna bakti pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor. WOCARE bersama Payuguban Purna Bakti Pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor berhasil menciptakan suasana yang penuh antusiasme, di mana setiap peserta merasa diterima dan didukung untuk menjaga kesehatan mereka. Layanan pemeriksaan kaki gratis ini menjadi sorotan utama, mengingat pentingnya deteksi dini masalah kaki bagi penderita diabetes dan lansia. Tak hanya pemeriksaan kaki, WOCARE juga memberikan edukasi tentang perawatan stoma kepada pasien dan keluarga. Edukasi ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup para pasien stoma, yang seringkali menghadapi tantangan fisik dan emosional. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan mereka dapat hidup lebih mandiri dan percaya diri. Kolaborasi antara WOCARE dan Payuguban Purna Bakti Pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor ini patut diapresiasi. Kedua pihak bekerja sama dengan harmonis, memastikan setiap detail acara berjalan lancar. Dukungan dari Payuguban Purna Bakti Pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor juga memperkuat pesan bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama, dan layanan seperti ini harus terus diupayakan. Para perawat dan tenaga kesehatan WOCARE tampak bersemangat melayani peserta. Mereka tidak hanya memberikan pemeriksaan medis, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan inspiratif tentang pentingnya menjaga kesehatan. Semangat mereka menular, membuat peserta merasa termotivasi untuk lebih peduli terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitar mereka. Peserta yang hadir pun tidak kalah antusias. Banyak yang mengungkapkan rasa terima kasih atas layanan ini, terutama karena pemeriksaan kaki dan edukasi stoma seringkali terabaikan. “Saya sangat terbantu dengan acara ini. Selama ini saya tidak terlalu memperhatikan kesehatan kaki, padahal saya penderita diabetes,” ujar salah satu peserta dengan mata berbinar. Acara ini juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antara WOCARE dan Payuguban Purna Bakti Pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor dapat menciptakan dampak besar. WOCARE dan Payuguban Purna Bakti Pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor berhasil menunjukkan bahwa dengan kerja sama, kita bisa menjangkau lebih banyak orang dan memberikan layanan yang bermakna. Keberhasilan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk tenaga medis, relawan, dan sponsor dari Solusi Luka Indonesia yang ikut andil dalam menyediakan produk perawatan luka, stoma dan inkontinensia. Semua elemen bersatu untuk mewujudkan visi bersama, yaitu masyarakat Bogor yang lebih sehat dan sejahtera. Ini adalah langkah kecil yang membawa perubahan besar. WOCARE berharap acara ini dapat menjadi inspirasi bagi organisasi lain untuk turut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Mereka juga berencana mengadakan kegiatan serupa di masa depan, dengan cakupan yang lebih luas dan inovasi yang lebih menarik. Akhirnya, acara ini bukan sekadar tentang pemeriksaan kaki atau edukasi stoma, tetapi tentang semangat berbagi dan peduli. WOCARE dan Payuguban Purna Bakti Pegawai Dinas Kesehatan Kota Bogor telah membuktikan bahwa dengan kolaborasi dan dedikasi, kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik, satu langkah kecil pada satu waktu. Mari terus bersama-sama menjaga kesehatan dan kesejahteraan kita semua! Kami juga membuka donasi untuk pasien-pasien yang membutuhkan dalam perawatan stoma dan luka. Setiap Donasi yang Anda berikan akan menjadi kontribusi berharga dalam mendukung tercapainya tujuan mulia ini. Klik tautan berikut untuk berdonasi: https://sociabuzz.com/wocare #WOCAREPeduli #BogorSehat #InspirasiKesehatan
Updated: 12 Feb 2025
Baca lebih lanjut
Bulan September 2024, merupakan hari bagi perawat luka, stoma, dan inkontinensia di seluruh dunia. Pasalnya pada bulan ini, Congress dua tahunan World Council Enterostomal Therapy kembalii digelar di Scottish Event Campus, Glasgow 2024. Event ini merupakan ajang bagi perawat luka, stoma, dan inkontinensia untuk kembali berjejaring, meningkatkan kompetensi dengan riset-riset dan evidence tebaru di bidang luka stoma dan inkontinensia. Pada tahun 2024, Wocare Indonesia dan INWCCA kembali berpartisipasi menjadi peserta dan oral presenter dalam event dunia ini. Menghadiri kongres World Council of Enterostomal Therapists (WCET) merupakan salah satu pengalaman yang sangat berharga dalam perjalanan profesional seorang ET Nurse. Dengan tema “Weaving Culture & Expertise to Offer the Best Patient Care,” acara ini berhasil menginspirasi dan memperkaya wawasan tidak hanya dalam aspek profesionalisme, tetapi juga dalam peningkatan pengetahuan dan aktualisasi diri. Salah satu hal yang paling berkesan selama kongres WCET adalah bagaimana acara ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya dan keahlian untuk memberikan perawatan pasien yang optimal. Sebagai seorang profesional di bidang perawatan stoma, luka, dan kontinensia, pembelajaran berkelanjutan dan adopsi metode terbaik dari berbagai belahan dunia merupakan hal yang penting. Dalam sesi plenary dan diskusi panel, kami dapat bertemu dengan para ahli dari berbagai negara yang berbagi pengalaman dan praktik terbaik mereka. Topik-topik seperti inovasi teknologi dalam perawatan luka dan pendekatan holistik terhadap pasien dengan kebutuhan kontinensia membuka perspektif baru. Diskusi ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga menginspirasi untuk meningkatkan standar praktik di Indonesia. Kongres WCET menawarkan program pendidikan yang sangat kaya, mulai dari workshop hingga sesi paralel yang mendalam. Selain itu, pameran industri yang menghadirkan produk dan inovasi terbaru memberikan kesempatan untuk memahami perkembangan terkini di bidang ini. Dari teknologi pembalut luka yang lebih efisien hingga alat bantu stoma yang dirancang untuk kenyamanan pasien, semua informasi ini sangat berguna untuk diterapkan dalam praktik sehari-hari. Hal ini juga dapat memberikan inspirasi bagi Wocare dan InWCCA untuk terus berinovasi dalam metode tatalaksana luka, stoma, dan inkontinensia untuk kualitas layanan yang lebih baik dan efisien. Menghadiri kongres WCET bukan hanya tentang belajar, tetapi juga tentang mengaktualisasikan diri sebagai seorang profesional. Kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian dan praktik terbaik dari Indonesia di hadapan audiens internasional memberikan kesempatan untuk kembali berkonstibusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia.Selain itu umpan balik yang konstruktif dari para ahli dapat membantu kita untuk melihat praktik dan penelitian kami dari sudut pandang baru dan merencanakan langkah-langkah pengembangan lebih lanjut. Oral presenter di WCET perwaklian dari Wocare Indonesia dan INWCCA adalah: Widasari Sri Gitarja, S.Kep., M.M., MARS, WOC(ET)N Ns. Kana Fajar, S.Kep, WOC(ET)N Ns. Pipit Lestari, S.Kep., M.Sc. WOC(ET)N Ns. Khairul Bahri, S.Kep., WOC(ET)N Lelik Adiyanto, S.Kep., M.Kes. Ns. Elvi Oktarina, S.Kep., Sp..Kep.MB, WOC(ET)N Ns. Eviyanti N., S.Kep., CWCC Munasirah, S.Kep., CWCC Mereka merupakan praktisi di bidang luka, stoma, dan inkontinensia yang juga merupakan pengajar program CWCCA, CDFCC, CSN, dan Indonesian ETNEP, Program Indonesian ETNEP sendiri merupakan program terakreditas internasional oleh WCET. Mereka siap untuk membagikan kompetensi dan ilmu dari WCET kepada praktisi-praktisi Luka Stoma, dan Inkontinensia. Anda ingin menjadi seperti mereka? atau ingin menjadi ahli luka stoma dan inkontinensia yang bisa aktualisasi diri di kancah dunia? Yuk Mulai dengan Daftar Indonesian Enterostomal Therapy Nurse Education Program , hanya di Wocare
Updated: 23 Jan 2025
Baca lebih lanjut
Berikut adalah alur Registrasi Webinar melalui website. Mohon untuk memahami prosesnya. Terima kasih
Updated: 23 Jan 2025
Baca lebih lanjut
Dalam rangka memperingati 15 tahun keberadaan dan kontribusinya, Philippine Wound Care Society, Inc. (PWCS) menggelar acara dengan tema "Celebrates 15 Years of Excellence: Pioneering the Future Together". Acara ini merupakan wujud apresiasi atas perjalanan panjang PWCS dalam memberikan layanan, edukasi, dan inovasi di bidang perawatan luka, baik di Filipina maupun secara global. PWCS telah menjadi pelopor dalam mempromosikan praktik terbaik di bidang perawatan luka melalui pendekatan berbasis bukti (evidence-based care). Sebagai organisasi yang menghimpun tenaga kesehatan, akademisi, dan profesional medis, PWCS berperan aktif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien melalui perawatan luka yang efektif dan manusiawi. Dengan tema "Pioneering the Future Together", acara ini tidak hanya menjadi momentum refleksi atas keberhasilan selama 15 tahun terakhir tetapi juga platform untuk mendiskusikan langkah-langkah strategis menuju masa depan yang lebih cerah dalam bidang perawatan luka. Berbagai pembicara terkemuka dari dalam dan luar negeri berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi terkini yang relevan untuk menjawab tantangan perawatan luka di era modern. Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut berpartisipasi di dalamnya. Ibu Widasari Sri Gitarja dan Ns. Eviyanti Nurmala Sari merupakan representatif Indonesia yang membawakan materi: Emergency Disaster dan Community Outreach in Indonesia pada 26 November 2024. Acara ini juga bertujuan untuk: Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perawatan luka yang berkualitas dan inovatif. Memfasilitasi kolaborasi lintas disiplin untuk pengembangan teknologi dan pendekatan baru dalam pengelolaan luka. Merayakan kolaborasi yang telah terbentuk dengan mitra-mitra global dalam memperkuat perawatan luka berbasis komunitas dan institusi. Sebagai perayaan tonggak penting dalam sejarah PWCS, kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antar profesional kesehatan sekaligus membangun jaringan yang lebih luas untuk menghadapi tantangan masa depan di bidang perawatan luka.
Updated: 04 Dec 2024
Baca lebih lanjut