Hubungi Kami
Dalam rangka perayaan ulang tahun Celebrity Fitness yang ke-17, telah diselenggarakan sebuah acara pameran kesehatan dan edukasi pada Selasa, 10 Desember 2025, bertempat di Celebrity Fitness Botani Square, yang berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Acara ini menghadirkan berbagai partisipan dari sektor kesehatan, rumah sakit, dan komunitas, di antaranya RS Mayapada serta beberapa institusi kesehatan lainnya. Salah satu partisipan yang turut ambil bagian dalam kegiatan ini adalah Museum Ostomi Indonesia. Kehadiran Museum Ostomi Indonesia bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat luas mengenai stoma, sebuah kondisi medis yang masih belum banyak dipahami oleh masyarakat. Melalui pameran ini, pengunjung mendapatkan penjelasan langsung mengenai apa itu stoma, jenis-jenis stoma, serta bagaimana ostomate dapat tetap menjalani hidup secara aktif dan produktif. Selain memberikan edukasi, Museum Ostomi Indonesia juga membuka program donasi kantong stoma sebagai bentuk kepedulian terhadap para ostomate yang membutuhkan. Pengunjung dapat berdonasi 1 kantong stoma dengan nominal Rp35.000. Setiap donasi yang diberikan berhak mendapatkan 1 voucher doorprize, dan berlaku kelipatan sesuai jumlah donasi yang diberikan. Program ini mendapat antusiasme yang baik dari para pengunjung yang ingin berkontribusi langsung dalam mendukung sesama. Tidak hanya itu, Museum Ostomi Indonesia juga menyediakan layanan pemeriksaan kulit gratis bagi para pengunjung. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui jenis kulit pengunjung, apakah termasuk kulit sehat, kulit normal, kulit berminyak, atau kulit kering. Edukasi ini penting karena kesehatan kulit berperan besar dalam kenyamanan dan perawatan tubuh sehari-hari, khususnya bagi ostomate. Bagi pengunjung yang teridentifikasi memiliki tipe kulit kering, Museum Ostomi Indonesia merekomendasikan penggunaan body care dari Metcovazin Natural. Produk ini mengandung bahan-bahan alami, salah satunya minyak buah merah Papua, yang dikenal dapat membantu menutrisi kulit, menjaga kelembapan, serta memperbaiki skin barrier. Rekomendasi ini diberikan sebagai bagian dari edukasi perawatan kulit yang aman dan berbahan alami. Melalui partisipasi dalam acara ini, Museum Ostomi Indonesia berharap dapat terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang stoma, menghapus stigma, serta mendorong empati dan dukungan bagi para ostomate. Pameran ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pusat kebugaran, institusi kesehatan, dan komunitas dapat memberikan dampak positif dalam menyebarkan informasi dan kepedulian kepada masyarakat luas.
Updated: 16 Dec 2025
Baca lebih lanjut
Dalam upaya mendukung gaya hidup sehat, aktif, dan inklusif bagi masyarakat, Museum Ostomi Indonesia turut mengikuti dan berkolaborasi dalam kegiatan Senam Lansia Ling Tien Kung bersama ostomate yang diselenggarakan di Perumahan Taman Sari Persada pada Minggu, 14 Desember 2025, mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat, kebersamaan, dan antusiasme dari para peserta. Acara senam ini diikuti oleh para lansia, komunitas Ling Tien Kung, serta para ostomate yang hadir dan berbaur bersama masyarakat.Jumlah peserta yang hadir adalah 31 orang yang terdiri dari 1 ostoamte, 3 volunter, 2 istruktur senam dan 25 orang lansia. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata komitmen Museum Ostomi Indonesia dalam mendukung kegiatan yang mendorong kesehatan fisik, mental, dan sosial, sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa ostomate tetap dapat menjalani aktivitas olahraga dan kehidupan sosial secara aktif. Senam Ling Tien Kung merupakan salah satu jenis senam kesehatan yang berfokus pada gerakan lembut, teratur, dan mudah diikuti oleh berbagai usia, khususnya lansia. Senam ini memiliki berbagai manfaat, antara lain: Melancarkan peredaran darah sehingga membantu meningkatkan energi dan vitalitas tubuh. Meningkatkan fungsi pernapasan melalui gerakan dan pola napas yang teratur. Menjaga fleksibilitas dan kekuatan otot, terutama pada bagian kaki, tangan, dan punggung. Membantu menjaga keseimbangan tubuh, sehingga dapat mengurangi risiko jatuh pada lansia. Meningkatkan daya tahan tubuh dan kebugaran secara keseluruhan. Memberikan efek relaksasi, membantu mengurangi stres, serta meningkatkan suasana hati. Manfaat-manfaat tersebut menjadikan senam Ling Tien Kung sangat sesuai untuk dilakukan secara rutin, termasuk bagi para ostomate, dengan tetap memperhatikan kondisi dan kemampuan masing-masing peserta. Setelah kegiatan senam bersama selesai, acara dilanjutkan dengan perayaan ulang tahun Ling Tien Kung Persada yang ke-1. Suasana kebersamaan semakin terasa melalui rangkaian acara yang diawali dengan doa bersama, sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan dan keberlangsungan komunitas Ling Tien Kung Persada selama satu tahun terakhir. Perayaan kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu ulang tahun, pemotongan kue, serta makan bersama seluruh peserta yang hadir. Momen ini menjadi ajang silaturahmi, mempererat hubungan antaranggota komunitas, lansia, ostomate, dan masyarakat sekitar. Museum Ostomi Indonesia turut memberikan dukungan dalam acara ini berupa kue ulang tahun, sebagai simbol partisipasi dan apresiasi atas kebersamaan serta semangat positif yang dibangun oleh komunitas Ling Tien Kung Persada. Rangkaian acara semakin meriah dengan adanya games seru yang melibatkan para peserta. Games ini dirancang untuk menciptakan suasana santai, menyenangkan, dan penuh tawa, sekaligus memperkuat interaksi sosial antar peserta. Kebersamaan yang terjalin menunjukkan bahwa kegiatan komunitas seperti ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan mental dan emosional. Melalui kolaborasi dalam kegiatan Senam Lansia Ling Tien Kung dan perayaan ulang tahun Ling Tien Kung Persada ini, Museum Ostomi Indonesia berharap dapat terus mendukung kegiatan masyarakat yang inklusif, sehat, dan penuh kebersamaan. Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bahwa ostomate dapat tetap aktif, berolahraga, dan bersosialisasi tanpa batasan. Ke depan, Museum Ostomi Indonesia berkomitmen untuk terus menjalin kolaborasi dengan berbagai komunitas dan pihak terkait dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai stoma, kesehatan, serta pentingnya hidup sehat dan saling mendukung antar sesama.
Updated: 16 Dec 2025
Baca lebih lanjut
Bandung, 06 Desember 2025 — Acara Grand Closing Padjajaran Embrace 2025 yang digelar di Universitas Padjadjaran, Bandung, berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Kegiatan tahunan yang bertujuan untuk merayakan keberagaman, inklusivitas, serta penguatan jejaring komunitas disabilitas ini menghadirkan berbagai program menarik—mulai dari pameran UMKM, edukasi kesehatan, hingga kegiatan sosial yang melibatkan banyak pihak. Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah kehadiran Museum Ostomi Indonesia dan Stocart, dua inisiatif yang aktif dalam edukasi serta pemberdayaan komunitas ostomate di Indonesia. Peran Museum Ostomi Indonesia: Edukasi yang Membuka Mata Museum Ostomi Indonesia hadir dengan booth edukatif yang menarik perhatian banyak pengunjung. Melalui koleksi kantong stoma dari berbagai jenis, poster edukasi, serta alat kesehatan pendukung, museum ini memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai apa itu stoma, siapa saja yang membutuhkannya, dan bagaimana kehidupan para penyintas dapat terus berjalan dengan penuh kualitas. Pengunjung terlihat sangat antusias saat tim museum menjelaskan fungsi kantong stoma, cara penggunaannya, serta berbagai inovasi produk yang kini semakin nyaman bagi ostomate. Banyak peserta, termasuk mahasiswa dan tenaga kesehatan, yang mengaku mendapatkan wawasan baru terkait isu kesehatan yang selama ini jarang dibahas secara terbuka. Tidak hanya edukasi teknis, museum juga menyampaikan pesan penting tentang dukungan emosional dan sosial bagi para penyintas kanker, penyakit inflamasi usus, atau kondisi medis lain yang memerlukan pembuatan stoma. Melalui kegiatan ini, Museum Ostomi Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam menghapus stigma dan meningkatkan pemahaman masyarakat. Stocart: Inovasi Kreatif dari Komunitas Ostomate Selain museum, Stocart—gerakan seni dan kreativitas dari komunitas ostomate—juga turut memeriahkan acara Grand Closing. Stocart menampilkan berbagai karya seni buatan ostomate, mulai dari lukisan, ilustrasi, hingga kerajinan tangan yang menggambarkan perjalanan penyintas dalam menghadapi proses kesehatan dan kehidupan sehari-hari. Kehadiran Stocart menjadi ruang bagi para ostomate untuk mengekspresikan diri, sekaligus membuktikan bahwa kondisi kesehatan tidak menghalangi siapa pun untuk berkarya. Banyak pengunjung yang terinspirasi oleh kisah-kisah di balik karya tersebut, yang menggambarkan ketangguhan, harapan, dan proses penerimaan diri. Beberapa karya bahkan mendapat perhatian lebih dari mahasiswa seni dan pengunjung umum yang tertarik untuk mengetahui proses kreatif pembuatannya. Stocart berhasil menunjukkan bahwa seni dapat menjadi media terapi sekaligus jembatan untuk membangun empati masyarakat. Mendukung Nilai Inklusivitas dalam Padjajaran Embrace 2025 Acara Padjajaran Embrace 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat edukasi dan pemahaman tentang inklusivitas. Museum Ostomi Indonesia dan Stocart membawa nilai-nilai tersebut secara nyata melalui informasi, karya, dan pengalaman yang mereka bagikan kepada para peserta. Selain pengunjung umum, acara ini juga dihadiri oleh penyandang disabilitas, komunitas pendamping, mahasiswa, tenaga kesehatan, pelaku UMKM, serta perwakilan berbagai organisasi sosial. Interaksi antar partisipan menciptakan suasana hangat dan saling menghargai. Booth museum dan Stocart tidak hanya berfungsi sebagai tempat pameran, tetapi juga menjadi ruang dialog, tempat curhat, serta sarana berbagi pengalaman antara ostomate dan masyarakat luas. Banyak yang menyampaikan bahwa kehadiran mereka menambah warna dan memperkaya keseluruhan rangkaian acara. Harapan dan Langkah Selanjutnya Melalui partisipasi dalam Grand Closing Padjajaran Embrace 2025, Museum Ostomi Indonesia dan Stocart berharap semakin banyak masyarakat memahami pentingnya dukungan kepada penyintas dengan stoma. Edukasi yang konsisten dan akses informasi yang tepat akan membantu mengurangi stigma serta meningkatkan kualitas hidup ostomate di Indonesia. Ke depan, museum dan Stocart berkomitmen untuk terus hadir dalam berbagai kegiatan edukatif, sosial, dan komunitas—baik di kampus, rumah sakit, maupun acara publik lainnya. Dengan kolaborasi yang lebih luas, diharapkan semakin banyak pihak yang turut berkontribusi dalam upaya menciptakan masyarakat yang inklusif dan peduli.
Updated: 08 Dec 2025
Baca lebih lanjut
Museum Ostomi Indonesia mendapatkan kehormatan untuk menghadiri acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-62 RS Persahabatan yang diselenggarakan pada Sabtu, 29 November 2025, bertempat di Gedung Pelayanan Ibu dan Anak ISDV RS Persahabatan, Jakarta Timur. Dengan mengusung tema: “Transformasi Layanan Menuju Rumah Sakit Unggul dan Berdaya Saing.” Acara ini menjadi momentum penting dalam perjalanan panjang RS Persahabatan sebagai salah satu rumah sakit rujukan nasional. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tamu undangan, termasuk Komunitas Ostomate KOPER, Museum Ostomi Indonesia, Yayasan Kanker Indonesia, serta perwakilan pemerintah dan mitra internasional, seperti Duta Besar Rusia dan Wakil Menteri Kesehatan. Salah satu momen yang paling berkesan adalah penampilan paduan suara dari Komunitas Ostomate KOPER dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI). Para anggota komunitas yang hidup dengan stoma menampilkan harmoni yang indah dan penuh semangat. Melalui penampilan tersebut, para ostomate membuktikan bahwa: ✨ Hidup dengan stoma bukanlah akhir. ✨ Semangat tidak berhenti hanya karena kondisi tubuh berubah. ✨ Mereka tetap mampu berkarya, beraktivitas, tampil percaya diri, dan menikmati hidup sepenuhnya. Penampilan ini bukan hanya sebuah persembahan seni, tetapi juga simbol keberanian dan pesan harapan bagi masyarakat luas bahwa kualitas hidup tetap bisa diraih setelah pemasangan stoma. Ucapan dan Harapan Atas perjalanan panjang dan kontribusi besar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia, kami dari Museum Ostomi Indonesia menyampaikan: Selamat Ulang Tahun ke-62 RS Persahabatan. Teruslah menjadi rumah sakit rujukan terpercaya dengan pelayanan yang humanis, profesional, dan penuh kasih. Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di Indonesia. Semoga semakin maju, semakin inovatif, dan selalu menjadi tempat yang memberi harapan bagi setiap pasien yang datang dengan doa untuk sembuh.
Updated: 03 Dec 2025
Baca lebih lanjut
Diabetes Wound Expo 2025: Edukasi, Inovasi, dan Kepedulian untuk Kesehatan Masyarakat Bogor, 13–15 November 2025 — Wocare Indonesia sukses menyelenggarakan kegiatan tahunan Diabetes Wound Expo 2025, sebuah acara besar yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat serta tenaga kesehatan mengenai penatalaksanaan luka diabetes. Acara ini berlangsung selama tiga hari dan dihadiri oleh berbagai profesi kesehatan, mulai dari dokter spesialis, dokter umum, perawat luka, fisioterapis, hingga tenaga medis lainnya. Hari Pertama & Kedua: Ilmu, Pameran, dan Inovasi di Bidang Perawatan Luka Pada dua hari pertama, kegiatan difokuskan pada sesi ilmiah khusus tenaga kesehatan. Materi yang diberikan meliputi perkembangan terbaru dalam penanganan luka diabetes, teknologi perawatan luka modern, strategi pencegahan komplikasi, serta pendekatan holistik bagi pasien dengan risiko tinggi. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, serta memperkuat jejaring antarprofesi demi meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia. Selain sesi ilmiah, area booth exhibition juga menjadi daya tarik utama. Berbagai perusahaan dan UMKM ikut serta memamerkan produk-produk unggulan, mulai dari perawatan luka, alat kesehatan, hingga inovasi lokal. Salah satu booth yang paling banyak menarik perhatian adalah Museum Ostomi Indonesia. Dalam ajang ini, museum hadir dengan koleksi lengkap berbagai jenis kantong stoma sebagai media edukasi bagi pengunjung, baik tenaga kesehatan maupun masyarakat umum. Pengunjung dapat melihat langsung variasi kantong stoma, memahami fungsinya, serta belajar mengenai kehidupan para ostomate. Museum Ostomi Indonesia juga membawa Stocart (Stoma Care Market) yang menjual beragam produk pendukung dan merchandise, seperti: Kantong stoma Celemek stoma Dummy edukasi Pouch rajut Sling bag rajut Kaos Ostomate Totebag Pouch make up Dan berbagai produk hasil karya ostomate lainnya Setiap merchandise memiliki ciri khas berupa kancing merah, simbol yang merepresentasikan stoma. Sentuhan ini tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga bentuk kebanggaan bagi komunitas ostomate dalam berkarya. Antusiasme pengunjung terhadap booth Museum Ostomi Indonesia sangat tinggi. Pengunjung tidak hanya tertarik mempelajari alat dan edukasi stoma, tetapi juga membeli produk-produk karya ostomate. Selama dua hari tersebut, jumlah pengunjung yang mendatangi booth mencapai lebih dari 50 orang. Hari Ketiga: Kegiatan Outdoor di Taman Ekspresi Sempur Puncak acara berlangsung pada hari ketiga dengan kegiatan yang dibuka untuk masyarakat umum. Berlokasi di Taman Ekspresi Sempur, rangkaian kegiatan meliputi: Jalan sehat Senam bersama Pemeriksaan kesehatan gratis Acara ini dihadiri sekitar 150 peserta dari Persatuan Diabetes, serta 10 anggota komunitas Ostomate Kota Bogor. Suasana penuh semangat terlihat sejak pagi, dengan peserta yang antusias mengikuti jalan sehat dan senam. Pemeriksaan kesehatan gratis – yang meliputi pengecekan gula darah, tekanan darah, dan konsultasi – menjadi layanan favorit yang membantu peserta lebih mengenali kondisi kesehatannya. Di akhir acara, panitia membagikan sejumlah doorprize bagi peserta beruntung sehingga menambah keceriaan suasana. Banyak peserta mengungkapkan rasa senang dan puas, serta berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan setiap tahun. Kesimpulan Diabetes Wound Expo 2025 berhasil menjadi ajang yang menggabungkan edukasi ilmiah, pemberdayaan komunitas, inovasi produk, dan kegiatan kesehatan masyarakat. Kehadiran Museum Ostomi Indonesia dan Stocart memberikan warna baru serta memperluas wawasan pengunjung mengenai stoma dan kehidupan ostomate. Acara ini tidak hanya memperkuat kolaborasi antar tenaga kesehatan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan dan penanganan dini luka diabetes. Antusiasme tinggi dari peserta menjadi bukti bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan dan memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat.
Updated: 27 Nov 2025
Baca lebih lanjut
Pada hari Rabu, 26 November 2025, para ostomate mengadakan kegiatan kunjungan ke UMKM milik salah satu ostomate, yaitu Toko Kue Pia dan Bingke milik Bapak Du Siang. Kegiatan ini diikuti oleh 8 ostomate, yaitu Pak Mumuh, Mba Tuti, Pak Arif, Mas Arief, Ibu Pitni, Ibu Neneng, Ibu Nengsri, dan Ibu Otik, serta didampingi oleh 3 volunteer. Kunjungan ini menjadi salah satu upaya untuk mempererat hubungan antar-ostomate sekalig us memberikan dukungan moral kepada sesama melalui kegiatan positif dan inspiratif. Setibanya di lokasi, para ostomate disambut hangat oleh Bapak Du Siang, pemilik UMKM sekaligus sesama ostomate yang telah menjalankan usahanya selama puluhan tahun. Beliau menceritakan perjalanan panjang membangun usaha kue pia, bingke, dan aneka bolu. Meskipun menghadapi berbagai tantangan kesehatan dan kehidupan sebagai ostomate, semangat Bapak Du Siang tidak pernah padam. Beliau juga mengungkapkan bahwa hingga kini, banyak pelanggan yang datang kembali karena rasa kue yang khas, lembut, dan selalu dibuat fresh setiap hari. Salah satu momen yang paling dinantikan dalam kunjungan ini adalah kesempatan untuk mencicipi langsung Kue Pia, Bingke, dan bolu yang baru keluar dari oven. Aroma harum kue yang masih hangat membuat suasana semakin akrab dan penuh kehangatan. Para ostomate tampak antusias mencoba berbagai varian kue sambil mendengarkan kisah perjalanan UMKM Bapak Du Siang. Beberapa bahkan berdiskusi tentang peluang pemasaran dan pengembangan usaha, menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan bukan hanya secara emosional, tetapi juga dalam bentuk semangat untuk saling memberdayakan. Selain melihat proses produksi dan menikmati hidangan, kegiatan ini juga menjadi ruang aman bagi para ostomate untuk berbagi cerita, pengalaman, tantangan, serta perjalanan mereka sebagai ostomate. Dalam suasana penuh keakraban, mereka saling mencurahkan isi hati, berbagi keluh kesah, serta saling menguatkan. Pertemuan seperti ini menjadi pengingat bahwa setiap ostomate tidak berjalan sendirian—ada komunitas yang siap mendukung, memahami, dan memberi semangat. Volunteer yang hadir pun turut memberikan pendampingan serta membantu terciptanya suasana hangat dan inklusif. Kunjungan ini bukan hanya sekadar agenda rutin, tetapi juga sebuah bentuk nyata bahwa ostomate mampu berkarya, bangkit, dan menjalani kehidupan dengan penuh semangat. Cerita sukses Bapak Du Siang menjadi inspirasi bahwa kondisi kesehatan bukanlah penghalang untuk tetap produktif dan mandiri. Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi pemicu munculnya kegiatan-kegiatan serupa di masa depan, di mana para ostomate dapat terus saling terhubung, belajar, dan mendukung satu sama lain.
Updated: 27 Nov 2025
Baca lebih lanjut
Ayo Bergabung dalam Kegiatan "Berkunjung dan Membuat Bakpia Bersama Ostomate" Mari kita saling menguatkan lewat rasa dan kebersamaan dalam kunjungan ke UMKM Ostomate, sekaligus melihat langsung proses pembuatan bakpia dari dapurnya. Kegiatan ini menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, belajar, serta mempererat hubungan antar-ostomate dalam suasana hangat dan positif. 📍 Tempat: Kp. Ciomas, Ciomas Rahayu, Bogor 📅 Hari/Tanggal: Rabu, 26 November 2025 ⏰ Pukul: 10.00 WIB – selesai 💛 Gratis & terbuka untuk seluruh Ostomate Untuk mengikuti kegiatan ini, silakan mengisi formulir pendaftaran melalui link berikut: 👉 https://bit.ly/BerkunjungKeTokoBakpia Informasi lebih lanjut: 📞 0813-1606-5923
Updated: 22 Nov 2025
Baca lebih lanjut
Jakarta, 30 Oktober 2025 — Yayasan Kanker Indonesia (YKI) secara resmi meluncurkan Kartu KAMPIUN (Kami Penyintas Unggul) pada Kamis, 30 Oktober 2025, pukul 10.00 WIB bertempat di Menara Lantai Hijau Lt. 2, Jl. MT Haryono Kav. 33, Cikoko, Pancoran, Jakarta Timur. Acara peluncuran ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wicaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FINASM, FACP, beserta jajaran pengurus YKI lainnya, serta tamu undangan dari berbagai komunitas penyintas kanker seperti penyintas kanker payudara, kanker otak, kanker serviks, kanker kolorektal, dan berbagai jenis kanker lainnya. Kehadiran para penyintas ini menambah semangat dan makna tersendiri dalam momentum peluncuran Kartu KAMPIUN sebagai simbol kebersamaan dan ketangguhan. Peluncuran Kartu KAMPIUN merupakan bagian dari komitmen Yayasan Kanker Indonesia dalam mendukung peningkatan kualitas hidup para penyintas kanker di Indonesia. Program ini bertujuan untuk membangun komunitas penyintas kanker yang tangguh, produktif, serta saling mendukung satu sama lain. Melalui KAMPIUN, para penyintas diharapkan dapat memperoleh akses terhadap berbagai program edukasi, kegiatan pemberdayaan, serta dukungan psikososial yang berkesinambungan. Dalam kegiatan peluncuran ini, Yayasan Wocare Indonesia turut berpartisipasi sebagai salah satu sponsor pendukung. Wocare memberikan dukungan berupa produk Metcovazin Natural serta totebag buatan ostomate dari Museum Ostomi Indonesia. Partisipasi ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara lembaga sosial dan komunitas penyintas dalam mendorong kemandirian serta keberdayaan ekonomi para penyintas kanker dan ostomate di Indonesia. Selain menjadi sponsor, Museum Ostomi Indonesia juga berkesempatan membuka booth pameran dan penjualan produk buatan ostomate, antara lain totebag, pouch rajut, kaos Ostoboy, celemek, Produk-produk tersebut merupakan hasil karya tangan para ostomate yang telah berhasil bangkit serta produktif melalui jalur kewirausahaan sosial. Dalam kesempatan yang sama, Stocart (Stoma Care Market) yang bernaung di bawah Museum Ostomi Indonesia berkolaborasi dengan Metcovazin Natural dalam memberikan edukasi langsung kepada para tamu undangan yang datang ke booth. Edukasi tersebut menyoroti manfaat penggunaan produk alami untuk membantu mengatasi kulit kering dan sensitif yang kerap dialami oleh pasien kanker pasca kemoterapi maupun radiasi. Acara peluncuran KAMPIUN ini tidak hanya menjadi simbol peresmian sebuah kartu keanggotaan, tetapi juga merupakan wujud nyata sinergi antara berbagai pihak dalam memperkuat dukungan terhadap komunitas penyintas kanker. Kolaborasi antara Yayasan Kanker Indonesia, Yayasan Wocare Indonesia, dan Museum Ostomi Indonesia menunjukkan bahwa melalui kerja sama dan kepedulian lintas sektor, masyarakat dapat berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan yang inklusif dan suportif bagi para penyintas. Dengan hadirnya KAMPIUN, Yayasan Kanker Indonesia berharap dapat menumbuhkan lebih banyak penyintas yang berdaya, percaya diri, serta mampu menjadi inspirasi bagi sesama. Kartu ini bukan hanya simbol identitas, tetapi juga cerminan semangat juang dan optimisme untuk terus melangkah maju — menjadi KAMPIUN, Kami Penyintas Unggul.
Updated: 05 Nov 2025
Baca lebih lanjut
Bogor, 25 Oktober 2025 Dalam suasana pagi yang tenang dan penuh berkah, Masjid Jami Darusalam Taman Cimanggu, Bogor, menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Kajian Kesehatan bertema “Kenali, Pahami, Dukung: Peduli pada Sahabat Stoma”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) Taman Cimanggu pada Sabtu, 25 Oktober 2025, ba’da salat Subuh hingga waktu syuruq. Acara dihadiri oleh sekitar 30 jamaah, yang sebagian besar merupakan kaum lansia. Meski pagi masih begitu dini, antusiasme jamaah tampak luar biasa. Mereka datang dengan semangat untuk menambah ilmu dan memahami lebih dalam tentang kesehatan, khususnya mengenai stoma dan kehidupan para penyandangnya. Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Tomi Abas, S.Kep., Ners, WOC(ET)N, seorang perawat spesialis bidang wound, ostomy, dan continence yang juga manager Museum Ostomi Indonesia. Dalam paparannya, beliau menjelaskan secara jelas dan menyentuh tentang apa itu stoma, penyebab seseorang harus menjalani prosedur stoma, serta bagaimana kehidupan para ostomate — orang-orang yang hidup dengan stoma. Tomi Abas juga menegaskan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam memberikan dukungan moral kepada para ostomate. “Stoma bukanlah akhir dari kehidupan. Justru ini adalah awal baru untuk tetap hidup dengan semangat dan harapan. Dukungan dan pemahaman dari lingkungan adalah kunci bagi para ostomate agar tetap percaya diri,” ujar Tomi Abas di hadapan jamaah. Selain itu, beliau juga memperkenalkan Museum Ostomi Indonesia, sebuah wadah edukasi dan kepedulian sosial yang bertujuan menumbuhkan pemahaman masyarakat tentang kehidupan para ostomate. Museum ini menjadi sarana pembelajaran penting agar masyarakat tidak lagi memandang stoma dengan stigma, tetapi dengan empati dan dukungan. Menambah kekuatan pesan dalam kajian ini, hadir pula Muhammad Daffa Zoelhamdi, seorang ostomate dengan urostomy yang membagikan kisah hidupnya sejak lahir hingga usia 23 tahun. Dengan penuh ketulusan, Daffa menceritakan perjuangannya menghadapi berbagai tantangan kesehatan sejak kecil, proses menerima kondisi tubuhnya, hingga akhirnya mampu bangkit dan berani berbagi kisah untuk menginspirasi orang lain. Kisah Daffa menggugah hati banyak jamaah. Beberapa di antara mereka tampak haru mendengar bagaimana seorang anak muda mampu melewati masa-masa sulit dan tetap bersyukur serta bersemangat menjalani kehidupan. Selama acara, jamaah aktif bertanya dan berdiskusi, mulai dari bagaimana cara merawat stoma, mendukung sahabat atau anggota keluarga yang mengalaminya, hingga bagaimana mencegah penyakit yang dapat menyebabkan tindakan stoma. Suasana hangat dan penuh rasa ingin tahu membuat kajian berlangsung dengan khidmat dan bermakna. Kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan kesehatan, tetapi juga menjadi ajang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial. Melalui tema “Kenali, Pahami, Dukung”, DKM Taman Cimanggu berharap masyarakat semakin terbuka untuk memahami keberadaan sahabat-sahabat ostomate di sekitar kita. Karena sejatinya, peduli bukan hanya tentang mengetahui, tetapi juga tentang memahami dan mendukung — agar setiap orang, termasuk mereka yang hidup dengan stoma, dapat terus melangkah dengan percaya diri dan semangat yang tak padam.
Updated: 05 Nov 2025
Baca lebih lanjut
Pada hari Jumat, 24 Oktober 2025, Museum Ostomi Indonesia kembali melaksanakan salah satu program rutinnya yang bertajuk “Hidup Sehat” melalui kegiatan jalan sehat bersama ostomate, volunter, dan masyarakat Taman Sari Persada. Kegiatan ini dimulai pukul 06.15 hingga 08.00 WIB, dengan rute yang telah menjadi favorit para peserta, yaitu dari Museum Ostomi Indonesia menuju bundaran Taman Sari Persada dan kembali lagi ke museum. Suasana pagi yang cerah menambah semangat para peserta yang turut serta dalam kegiatan ini. Sebanyak 13 orang hadir dan ikut melangkah bersama, terdiri dari 1 orang ostomate, 4 warga masyarakat Taman Sari Persada, serta 7 volunter yang dengan penuh semangat mendampingi jalannya kegiatan. Turut hadir pula Ibu Dr. Widasari Sri Gitarja, S.Kp, MARS, MM, WOC(ET)N, selaku Ketua Yayasan Wocare, yang juga ikut berjalan bersama peserta, memberikan semangat, dan mencontohkan pentingnya menjaga kesehatan fisik melalui aktivitas ringan seperti jalan pagi. Program jalan sehat ini bukan sekadar aktivitas olahraga, melainkan juga menjadi sarana menjalin kebersamaan dan mempererat hubungan antara ostomate, relawan, serta masyarakat sekitar. Melalui kegiatan ini, Museum Ostomi Indonesia berupaya menanamkan kesadaran bahwa setiap individu, termasuk para ostomate, berhak dan mampu menjalani hidup sehat, aktif, dan penuh semangat. Jalan sehat yang dilaksanakan setiap bulan ini juga menjadi wadah untuk saling berbagi cerita dan dukungan antar peserta. Para volunter dan masyarakat dapat mengenal lebih dekat kehidupan ostomate, memahami tantangan yang mereka hadapi, sekaligus melihat bagaimana semangat pantang menyerah mampu membawa mereka tetap produktif dan bahagia. Di akhir kegiatan, suasana penuh keakraban tampak jelas. Canda dan tawa mengiringi langkah terakhir menuju Museum Ostomi Indonesia sebagai titik akhir perjalanan. Ibu Dr. Widasari memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang dengan antusias mengikuti kegiatan ini, serta mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik yang teratur, asupan gizi yang seimbang, dan pikiran yang positif. Dengan pelaksanaan rutin setiap bulan, kegiatan jalan sehat ini diharapkan dapat menjadi gaya hidup sehat yang berkelanjutan di kalangan ostomate, relawan, dan masyarakat sekitar. Lebih dari sekadar olahraga, jalan sehat bersama Museum Ostomi Indonesia merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap kesehatan, kebersamaan, dan semangat hidup yang tak pernah padam.
Updated: 27 Oct 2025
Baca lebih lanjut
Bogor, 25 Oktober 2025 Dalam suasana pagi yang tenang dan penuh berkah, Masjid Jami Darusalam Taman Cimanggu, Bogor, menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Kajian Kesehatan bertema “Kenali, Pahami, Dukung: Peduli pada Sahabat Stoma”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) Taman Cimanggu pada Sabtu, 25 Oktober 2025, ba’da salat Subuh hingga waktu syuruq. Acara dihadiri oleh sekitar 30 jamaah, yang sebagian besar merupakan kaum lansia. Meski pagi masih begitu dini, antusiasme jamaah tampak luar biasa. Mereka datang dengan semangat untuk menambah ilmu dan memahami lebih dalam tentang kesehatan, khususnya mengenai stoma dan kehidupan para penyandangnya. Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Tomi Abas, S.Kep., Ners, WOC(ET)N, seorang perawat spesialis bidang wound, ostomy, dan continence yang juga manager Museum Ostomi Indonesia. Dalam paparannya, beliau menjelaskan secara jelas dan menyentuh tentang apa itu stoma, penyebab seseorang harus menjalani prosedur stoma, serta bagaimana kehidupan para ostomate — orang-orang yang hidup dengan stoma. Tomi Abas juga menegaskan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam memberikan dukungan moral kepada para ostomate. “Stoma bukanlah akhir dari kehidupan. Justru ini adalah awal baru untuk tetap hidup dengan semangat dan harapan. Dukungan dan pemahaman dari lingkungan adalah kunci bagi para ostomate agar tetap percaya diri,” ujar Tomi Abas di hadapan jamaah. Selain itu, beliau juga memperkenalkan Museum Ostomi Indonesia, sebuah wadah edukasi dan kepedulian sosial yang bertujuan menumbuhkan pemahaman masyarakat tentang kehidupan para ostomate. Museum ini menjadi sarana pembelajaran penting agar masyarakat tidak lagi memandang stoma dengan stigma, tetapi dengan empati dan dukungan. Menambah kekuatan pesan dalam kajian ini, hadir pula Muhammad Daffa Zoelhamdi, seorang ostomate dengan urostomy yang membagikan kisah hidupnya sejak lahir hingga usia 23 tahun. Dengan penuh ketulusan, Daffa menceritakan perjuangannya menghadapi berbagai tantangan kesehatan sejak kecil, proses menerima kondisi tubuhnya, hingga akhirnya mampu bangkit dan berani berbagi kisah untuk menginspirasi orang lain. Kisah Daffa menggugah hati banyak jamaah. Beberapa di antara mereka tampak haru mendengar bagaimana seorang anak muda mampu melewati masa-masa sulit dan tetap bersyukur serta bersemangat menjalani kehidupan. Selama acara, jamaah aktif bertanya dan berdiskusi, mulai dari bagaimana cara merawat stoma, mendukung sahabat atau anggota keluarga yang mengalaminya, hingga bagaimana mencegah penyakit yang dapat menyebabkan tindakan stoma. Suasana hangat dan penuh rasa ingin tahu membuat kajian berlangsung dengan khidmat dan bermakna. Kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan kesehatan, tetapi juga menjadi ajang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial. Melalui tema “Kenali, Pahami, Dukung”, DKM Taman Cimanggu berharap masyarakat semakin terbuka untuk memahami keberadaan sahabat-sahabat ostomate di sekitar kita. Karena sejatinya, peduli bukan hanya tentang mengetahui, tetapi juga tentang memahami dan mendukung — agar setiap orang, termasuk mereka yang hidup dengan stoma, dapat terus melangkah dengan percaya diri dan semangat yang tak padam.
Updated: 27 Oct 2025
Baca lebih lanjut
Pada hari Rabu, 1 Oktober 2025, Museum Ostomi Indonesia kembali menyelenggarakan kegiatan edukatif bertajuk “Ostomate Preneurs”, yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. Tujuan utama kegiatan ini adalah mendorong kemandirian dan pemberdayaan para ostomate (pengguna stoma) melalui edukasi kewirausahaan dan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tema besar “Ostomate Preneurs” menggambarkan semangat bahwa siapa pun, termasuk ostomate, dapat menjadi wirausahawan yang berdaya, kreatif, dan mandiri. Belajar Jadi Wirausahawan Lewat Stocart (Stoma Care Market) Bagian pertama dari kegiatan ini difokuskan pada pelatihan menjadi reseller produk-produk di Stocart, sebuah platform penjualan yang dikembangkan oleh komunitas ostomi di bawah naungan Museum Ostomi Indonesia. Melalui sesi ini, peserta dikenalkan dengan berbagai produk perawatan stoma (stoma care) dan produk kesehatan pendukung yang tersedia di Stocart, seperti Metcovazin Natural Healthy Lotion, Metcovazin Natural Healthy Soap, Metcovazin Natural Healthy Scrub, Kaos Ostoboy, Pouch Stoma, Totebag Stoma, Pouch Kosmetik dll. Cara menjadi reseller resmi dan sistem bagi hasil yang menguntungkan, Teknik promosi online melalui media sosial seperti WhatsApp dan Shopee, Strategi membangun kepercayaan pelanggan, serta Simulasi pelayanan pelanggan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi. Pelatihan ini dipandu secara interaktif oleh tim dari Museum Ostomi Indonesia dan Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, para ostomate bisa memperoleh penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan rumah, serta menumbuhkan rasa percaya diri untuk mandiri secara ekonomi. Kreatif dan Ramah Lingkungan: Membuat Pupuk Organik Sendiri Selain belajar menjadi pengusaha, peserta juga diajak mengikuti kegiatan membuat pupuk organik. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga secara ramah lingkungan, sekaligus memberi ide usaha baru yang sederhana namun potensial. Dalam sesi ini, peserta belajar cara mengolah sisa bahan dapur dan sampah organik menjadi pupuk kompos yang bermanfaat untuk tanaman hias maupun sayuran di rumah. Dengan peralatan sederhana, peserta dapat mempraktikkan langsung proses pembuatan pupuk mulai dari tahap pencacahan, pencampuran bahan, hingga proses fermentasi. Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mengajak peserta untuk lebih peduli terhadap lingkungan, sekaligus melihat peluang bisnis dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna. Kolaborasi dan Semangat Bersama
Updated: 20 Oct 2025
Baca lebih lanjut
Dalam semangat memperingati World Ostomy Day 2025, Museum Ostomi Indonesia kembali mengadakan kegiatan penuh makna pada Senin, 6 Oktober 2025. Tahun ini, tema global yang diangkat adalah “Invisible Disabilities, Visible Support”, yang berarti “Disabilitas Tak Terlihat, Dukungan yang Nyata.” Tema ini mengajak seluruh masyarakat untuk lebih memahami bahwa tidak semua disabilitas dapat dilihat secara kasat mata, termasuk kondisi yang dialami oleh para ostomate (pengguna stoma). Melalui kegiatan ini, Museum Ostomi Indonesia ingin menunjukkan bahwa dukungan nyata dari lingkungan dan komunitas memiliki peran penting dalam meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas hidup para ostomate di Indonesia. Momen Kebersamaan yang Hangat dan Menginspirasi Perayaan yang digelar di Museum Ostomi Indonesia ini berlangsung dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Acara dimulai pukul 15.30 WIB dan dihadiri oleh Ketua Yayasan Wocare Indonesia, Ibu Widasari Sri Gitarja Selanjutnya, sambutan juga disampaikan oleh Ibu Yusniar, selaku pembina Museum Ostomi Indonesia. Dalam kata sambutannya, beliau menekankan pentingnya kegiatan seperti ini untuk memperkuat solidaritas dan rasa percaya diri para sahabat ostomate. “Melalui perayaan ini, kita ingin menunjukkan bahwa para ostomate bukan hanya bertahan, tetapi juga mampu berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya dengan penuh semangat. Salah satu momen paling menyentuh dari acara ini adalah sesi berbagi cerita dari para ostomate, baik yang hadir secara langsung maupun yang bergabung melalui Zoom Meeting. Dalam sesi ini, beberapa peserta membagikan pengalaman mereka menjalani kehidupan dengan stoma — tantangan, perjuangan, serta dukungan yang mereka terima dari keluarga, tenaga kesehatan, dan komunitas. Cerita-cerita ini menjadi pengingat bahwa meski stoma sering disebut sebagai “disabilitas tak terlihat”, namun semangat, keberanian, dan keteguhan hati para ostomate sangatlah nyata dan patut diapresiasi. Banyak peserta yang terinspirasi untuk lebih terbuka dan saling mendukung satu sama lain. Setelah sesi berbagi, acara dilanjutkan dengan pemotongan bolu secara simbolis, sebagai tanda syukur dan kebersamaan seluruh sahabat ostomate. Momen ini menjadi simbol dari semangat untuk terus menyalakan harapan. Kegiatan kemudian diteruskan dengan makan bersama yang penuh keakraban. Para peserta saling berbincang, tertawa, dan berfoto, mempererat hubungan di antara anggota komunitas dan keluarga besar Museum Ostomi Indonesia. Acara ditutup dengan sesi foto bersama, di mana seluruh peserta — baik pengurus, pembina, maupun sahabat ostomate — berpose dengan senyum hangat. Foto-foto ini menjadi kenangan berharga atas momen kebersamaan dan dukungan yang nyata bagi para ostomate. Perayaan World Ostomy Day 2025 di Museum Ostomi Indonesia bukan sekadar acara seremonial, melainkan bentuk nyata dari kepedulian, dukungan, dan solidaritas kepada komunitas ostomate. Melalui kegiatan ini, pesan penting disampaikan kepada masyarakat bahwa setiap individu, terlepas dari kondisi fisiknya, berhak untuk hidup bermartabat, diterima, dan didukung. ✨ “Invisible Disabilities, Visible Support” bukan hanya slogan, tetapi ajakan untuk melihat lebih dalam, memahami lebih luas, dan mendukung lebih nyata.
Updated: 20 Oct 2025
Baca lebih lanjut
Di sudut tenang Museum Ostomi Indonesia, pada sebuah Rabu yang cerah di tanggal 10 September 2025, sesuatu yang ajaib sedang terangkai. Bukan hanya oleh benang wol yang berwarna-warni, tetapi oleh jalinan cerita, resiliense, dan senyum yang penuh arti. Di sana, kegiatan "Merajut Bersama Ostomate" menjadi lebih dari sekadar agenda—ia menjadi sebuah sanctuary, ruang aman di mana setiap tusukan jarum adalah sebuah kata, setiap helai benang adalah sebuah kalimat, dan setiap karya yang lahir adalah sebuah bab baru dalam buku perjalanan hidup. Sebuah Ruang Aman yang Terrajut dari Empati Dipandu oleh sosok yang penuh cahaya, Ibu Asriati, bersama tim volunter yang penuh dedikasi, ruang tersebut seketika berubah menjadi sebuah sanggar kehangatan. Ibu Asriati tidak hanya mengajarkan teknik; ia membagikan energinya, kesabarannya, dan keyakinannya bahwa setiap orang bisa mencipta keindahan. Di bawah bimbingannya, para peserta—yang terdiri dari ostomate, sahabat, dan pendamping setia—diajak untuk membuka tidak hanya bungkusan benang, tetapi juga lembaran hati mereka. Ini adalah misi utama dari kegiatan ini: menghadirkan ruang aman dan penuh inspirasi, sebuah tempat di mana pengalaman hidup bisa dibagikan tanpa judgement, di mana kekhawatiran bisa ditransformasi menjadi kekuatan, dan di mana kebersamaan menjadi obat yang paling manis. Setiap Tusukan Jarum, adalah Sebuah Cerita Hari itu dimulai pukul 10.00 WIB, diiringi oleh gemericik obrolan dan tawa yang bersahabat. Di atas meja, gulungan benang dalam berbagai palet warna—merah marun, biru langit, hijau zamrud, kuning mentari—seperti metafora dari berbagai emosi dan pengalaman hidup yang berbeda-beda, siap untuk ditenun menjadi satu kesatuan yang harmonis. Dalam kesunyian yang produktif dan obrolan yang berisik penuh semangat, para peserta menjelajahi perjalanan kreatif mereka: Memelajari Dasar Merajut: Sebuah Pelajaran Hidup. Bagi banyak peserta, memegang dua jarum rajut dan sehelai benang adalah pengalaman pertama. Ibu Asriati dengan telaten mengajarkan dari nol: bagaimana membuat slip knot, bagaimana memegang benang dengan nyaman, dan gerakan dasar knit dan purl. Proses ini mengajarkan lebih dari sekadar kerajinan;ia mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan keyakinan bahwa segala sesuatu yang besar berawal dari satu langkah, atau dalam hal ini, satu tusukan kecil. Mengekspresikan Diri: Warna-Warni Jiwa di Ujung Jarum. Benang-benang itu kemudian menjadi kanvas. Setiap pilihan warna mencerminkan suasana hati; setiap pola yang dipilih (atau bahkan diciptakan sendiri) menjadi ekspresi dari kepribadian. Ada yang membuat syal sederhana, sapu tangan, atau serbet kecil. Setiap karya adalah unik, sebagaimana uniknya perjalanan setiap individu yang hadir. Menjalin Silaturahmi: Benang yang Menguatkan Hubungan. Suasana paling menghangatkan adalah ketika peserta saling membantu. "Ini salahnya di mana, ya?" tanya seorang peserta. "Aku bantu," sahut yang lain, dan seketika tercipta sebuah ikatan. Mereka berbagi tidak hanya tips merajut, tetapi juga cerita tentang tantangan dan kemenangan sehari-hari. Di sini, silaturahmi tidak hanya terjalin; ia dikuatkan oleh benang-benang empati yang tak terputus. Membangun Percaya Diri: Karya sebagai Bukti "Saya Bisa!". Momen paling membahagiakan adalah ketika seorang peserta berhasil menyelesaikan barisan pertamanya, atau melihat sebuah bentuk mulai terbentuk. Ada kebanggaan yang terpancar dari mata mereka. Aktivitas kreatif ini adalah pengingat yang powerful: "Saya masih mampu mencipta. Saya masih bisa menghasilkan sesuatu yang indah dan nyata." Ini adalah fondasi untuk membangun kembali kepercayaan diri yang mungkin sempat goyah. Melanjutkan Metafora Pertumbuhan: Dari Rajutan ke Hidroponik Seolah metafora tentang pertumbuhan dan kehidupan harus diteruskan, begitu kegiatan merajut usai, energi positif dialirkan ke aktivitas berikutnya: pemindahan benih hidroponik ke medianya. Jika merajut adalah tentang menciptakan kehangatan dari yang sederhana, maka bercocok tanam hidroponik adalah tentang memelihara kehidupan dan harapan. Para peserta dengan hati-hati memindahkan benih-benih kecil yang penuh potensi itu. Aktivitas ini paralel dengan perjalanan mereka—seperti benih yang membutuhkan medium, nutrisi, dan dukungan yang tepat untuk tumbuh, begitu pula manusia membutuhkan komunitas dan semangat untuk terus berkembang dan bersemi. Sebuah Karya yang Tak Pernah Benar-Benar Selesai Kegiatan "Merajut Bersama Ostomate" pada hari itu mungkin telah berakhir, tetapi karya yang dihasilkan tidak akan pernah benar-benar selesai. Setiap syal yang nantinya dipakai, setiap serbet yang digunakan, akan membawa serta cerita tentang hari itu—tentang kebersamaan, tentang perjuangan, dan tentang keindahan yang lahir dari ketekunan. Acara ini membuktikan bahwa komunitas adalah selimut terhangat yang bisa kita rajut bersama. Dan di bawah panduan Ibu Asriati dan tim, Museum Ostomi Indonesia sekali lagi menjadi bukan hanya tempat untuk mengenang, tetapi juga tempat untuk merajut masa depan yang penuh warna, cerita, dan tentu saja, kehangatan yang tak terungkai oleh kata-kata.
Updated: 01 Oct 2025
Baca lebih lanjut
TAMAN SARI PERSADA, 31 Agustus 2025 – Udara pagi yang sejuk dan sinar matahari yang cerah menyambut semangat para peserta kegiatan “Senam Ceria Ostomate & Lansia” yang digelar di Perumahan Taman Sari Persada, Minggu (31/8/2025). Kegiatan yang berlangsung tepat di dekat Museum Ostomi Indonesia ini pun mulai dipadati peserta sejak pukul 07.00 WIB. Acara yang bertujuan mempromosikan hidup sehat dan solidaritas ini berhasil menarik perhatian berbagai kalangan. Tercatat, para Ostomate (orang yang telah menjalani operasi ostomi), Lansia dari sekitar perumahan, dan Sahabat Ostomate (keluarga dan pendamping) turut serta memeriahkan event pagi itu. Dengan diiringi alunan musik yang energik, seluruh peserta dengan antusias mengikuti setiap gerakan senam yang dipandu oleh instruktur. Gerakan-gerakan ringan dan menyenangkan sengaja dirancang untuk sesuai dengan semua tingkat kemampuan fisik, menciptakan atmosfer kebersamaan yang hangat dan penuh tawa. Kegiatan senam ini bukan hanya tentang menjaga kebugaran jasmani, tetapi juga tentang memperkuat mental dan menjalin silaturahmi. Usai menyegarkan tubuh dengan senam, acara dilanjutkan dengan sesi edukatif yang sangat penting. Para peserta kemudian dipersilakan untuk mendengarkan pengenalan mengenai Museum Ostomi Indonesia yang disampaikan langsung oleh Manager Museum, Bapak Tomi Abas, S.Kep., WOC(ET)N. Dengan pemaparan yang jelas dan informatif, Tomi Abas menjelaskan mengenai peran, koleksi, dan misi museum sebagai pusat edukasi dan sumber dukungan bagi para ostomate dan masyarakat umum. Latar belakangnya sebagai seorang Perawat Wound, Ostomy, and Continence pun menambah kedalaman dan kredibilitas materi yang disampaikan. Antusiasme peserta semakin terpacu usai penyuluhan tersebut, yang langsung ditindaklanjuti dengan kunjungan ke dalam Museum Ostomi Indonesia. Dipandu oleh tim museum, para peserta berkesempatan untuk melihat langsung berbagai diorama, alat-alat ostomi, dan panel informasi yang mengisahkan perjalanan hidup serta ketangguhan para ostomate. Bagi banyak peserta, terutama para lansia, momen ini menjadi pengalaman pertama yang sangat membuka wawasan mereka. Kegiatan ini diharapkan dapat terus menginspirasi banyak pihak. Melalui event semacam ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan dukungan terhadap para ostomate dapat meningkat, sekaligus menegaskan bahwa dengan dukungan yang tepat, setiap individu dapat hidup dengan penuh semangat dan berkualitas.
Updated: 04 Sep 2025
Baca lebih lanjut
Bogor, 20 Agustus 2025 – Suasana ceria dan penuh semangat menyelimuti Museum Ostomi Indonesia pada Rabu pagi. Museum yang berlokasi di Perumahan Taman Sari Persada Blok H1 No.6, Cibadak, Tanah Sareal, Bogor, ini menjadi saksi sebuah kegiatan yang tidak hanya memanen sayuran, tetapi juga memanen kebahagiaan, harapan, dan semangat hidup bagi para penyintas ostomi (ostomate). Kegiatan panen perdana tanaman hidroponik ini dihadiri secara khusus oleh komunitas Ostomate InOA (Indonesia Ostomy Association) Bogor. Acara ini merupakan puncak dari proses panjang merawat dan membesarkan tanaman yang dilakukan secara bersama-sama, sekaligus menjadi simbol dari pertumbuhan dan kehidupan baru yang senantiasa diperjuangkan oleh setiap ostomate. Acara dibuka secara resmi oleh Manager Museum Ostomi Indonesia, Ns. Tomi Abas, S.Kep., WOC(ET)N. Dalam sambutannya, Tomi menekankan pentingnya terapi hortikultura bagi kesehatan mental dan fisik. “Bercocok tanam, merawatnya dengan sabar, dan akhirnya memanen hasilnya adalah sebuah metafora yang indah bagi perjalanan hidup kita, khususnya para ostomate. Kegiatan ini melatih kesabaran, memberi rasa tanggung jawab, dan yang paling utama, memberikan kepuasan batin yang luar biasa,” ujarnya. Selanjutnya, Ibu Sri Widayati, Pembina Yayasan WOCare Indonesia, memberikan sambutan yang menginspirasi. Beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif dan konsistensi komunitas InOA Bogor. “Museum Ostomi hadir bukan hanya sebagai tempat edukasi, tetapi juga sebagai rumah kedua bagi para ostomate. Setiap kegiatan yang dilakukan di sini, seperti hidroponik ini, adalah bagian dari proses healing dan penguatan untuk menunjukkan bahwa hidup sebagai ostomate tetap bisa produktif dan penuh warna,” tutur Sri Widayati. Sebelum memasuki momen inti panen, Ketua InOA Bogor Bapak Mumuh munadju melakukan evaluasi terhadap seluruh tanaman hidroponik yang telah ditanam beberapa minggu sebelumnya. Dengan teliti, beliau memeriksa kualitas tanaman, sistem irigasi, dan memberikan arahan untuk perawatan ke depannya. Evaluasi ini sekaligus menjadi momen edukasi bagi para anggota untuk terus meningkatkan kualitas budidaya mereka. Usai evaluasi, tibalah momen yang paling ditunggu-tunggu: panen bersama. Dengan riang gembira, para ostomate memetik daun selada, kangkung, dan sayuran hijau lainnya yang tumbuh subur dalam sistem hidroponik. Tawa dan canda mewarnai proses panen, mencerminkan kebersamaan dan kegembiraan yang mereka rasakan. Hasil panen yang segar dan organik tersebut kemudian dibagikan kepada para peserta untuk dinikmati bersama keluarga di rumah. Namun, semangat untuk terus tumbuh tidak berhenti pada panen saja. Seusai memanen, kegiatan dilanjutkan dengan menanam bibit kembali. Para ostomate dengan penuh antusiasme menyiapkan rockwool, menanam benih, dan merapihkannya kembali di rak hidroponik. Aktivitas ini menandakan sebuah siklus kehidupan yang berkelanjutan—setelah menuai hasil dari kerja keras, maka disiapkan lagi generasi baru untuk masa depan yang lebih baik. Kegiatan panen hidroponik ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam biasa. Ini adalah sebuah terapi, sebuah wadah silaturahmi, dan bukti nyata bahwa dengan dukungan, semangat, dan lingkungan yang positif, setiap individu, termasuk ostomate, dapat terus berkarya dan menikmati kehidupan yang berkualitas. Museum Ostomi Indonesia sekali lagi membuktikan komitmennya sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan yang menyentuh hati dan menginspirasi tindakan. Museum Ostomi Indonesia adalah museum pertama dan satu-satunya di Indonesia yang didedikasikan untuk edukasi tentang ostomi dan perawatan luka. Berdiri di bawah naungan Yayasan WOCare Indonesia, museum ini menjadi pusat informasi, konsultasi, dan komunitas bagi para ostomate dan tenaga kesehatan di Indonesia.
Updated: 27 Aug 2025
Baca lebih lanjut
Museum Ostomi Indonesia yang berlokasi di Perumahan Taman Sari Persada Blok H1 No. 6 kembali mengadakan kegiatan Jalan Sehat "Peduli Kaki Sehat" untuk yang kedua kalinya pada Rabu, 16 Juli 2025. Acara ini diikuti oleh para ostomate (individu yang telah menjalani operasi ostomi) beserta sahabat ostomate, serta masyarakat umum yang peduli terhadap kesehatan. Kegiatan ini diselenggarakan bersama KISS (Komunitas Kaki Sehat Se-Indonesia) dan WOCare Center Bogor, sebagai bentuk komitmen untuk terus mendukung kesehatan dan kualitas hidup para ostomate. Rute dan Pelaksanaan Jalan Sehat Seperti edisi sebelumnya, jalan sehat dimulai dari kantor InOA (Indonesian Ostomy Association), kemudian melewati rute menuju Gerbang Taman Sari Persada, dan kembali finis di kantor InOA. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan kaki, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antara ostomate, keluarga, dan masyarakat. Bagi para ostomate, aktivitas fisik seperti jalan sehat sangat bermanfaat untuk memperlancar sirkulasi darah dan menjaga kebugaran tubuh. Selain itu, acara ini menjadi wadah silaturahmi dan saling memberi motivasi antar sesama ostomate. Antusiasme Peserta dan Dukungan Komunitas Meskipun dilaksanakan pada hari kerja, antusiasme peserta tetap tinggi. Tak hanya ostomate, banyak sahabat ostomate (keluarga, relawan, dan masyarakat umum) yang turut serta mendukung acara ini. Kegiatan Rutin untuk Kesehatan dan Solidaritas Mengusung semangat "Kaki Sehat, Hidup Lebih Berkualitas", kegiatan ini Insya Allah akan menjadi agenda rutin Museum Ostomi Indonesia. Harapannya, semakin banyak pihak yang terinspirasi untuk turut serta dalam gerakan peduli kesehatan ostomate dan masyarakat luas. Kegiatan Jalan Sehat "Peduli Kaki Sehat" ke-2 ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk tetap aktif dan produktif. Dengan dukungan komunitas seperti KISS dan WOCare Center Bogor, para ostomate dapat terus bersemangat menjalani hidup sehat. "Bersama kita kuat, bersama kita peduli!" Mari dukung terus kegiatan positif ini untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan peduli kesehatan!
Updated: 24 Jul 2025
Baca lebih lanjut
Bogor, 23 Juli 2025 – Dalam upaya mendukung kelestarian lingkungan dan pemberdayaan komunitas, Museum Ostomi Indonesia menyelenggarakan pelatihan pembuatan eco enzyme dan sabun berbahan alami pada hari Rabu (23/7/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh anggota Komunitas Ostomate InOA Kota Bogor, yang antusias mempelajari cara mengolah sampah organik menjadi produk bernilai guna. Semangat Kolaborasi untuk Lingkungan yang Lebih Hijau Acara dibuka oleh Manager Operasional Museum Ostomi Indonesia Tomi abas.S.kep., WOC (ET)N, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya peran komunitas dalam mengurangi limbah rumah tangga. "Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tapi langkah nyata untuk mengubah pola pikir kita dalam mengelola sampah. Eco enzyme adalah solusi sederhana dengan manfaat besar, baik untuk kesehatan maupun lingkungan," ujarnya. Materi Inspiratif dari Narasumber Ahli Peserta kemudian diajak menyimak pemaparan mendalam oleh Aang Hudaya, praktisi eco enzyme yang telah berkecimpung dalam pengolahan limbah organik. Dalam materinya, bapak Aang menjelaskan: Manfaat eco enzyme: Cairan serbaguna hasil fermentasi sampah organik (kulit buah, sayuran) yang bisa digunakan sebagai pembersih alami, pupuk tanaman, hingga pengendali hama. Dampak lingkungan: Mengurangi timbunan sampah di TPA sekaligus menekan penggunaan bahan kimia berbahaya. Keterlibatan komunitas ostomate: "Kawan-kawan ostomate bisa menjadi pionir dalam gerakan zero waste, sekaligus menciptakan peluang usaha dari produk ramah lingkungan," tambah Aang. Praktik Langsung: Dari Sampah Jadi Berkah Usai teori, peserta langsung mempraktikkan pembuatan eco enzyme dengan bahan sederhana: Sampah organik (kulit jeruk, nanas, atau pepaya). Gula merah/molase sebagai sumber karbon. Air dengan perbandingan 1:3:10. Campuran difermentasi selama 3 bulan, dan hasilnya bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Tak hanya eco enzyme, peserta juga diajarkan membuat sabun alami dari minyak jelantah dan soda api, yang aman untuk kulit sensitif. "Ternyata limbah dapur bisa jadi sabun yang bagus! Ini sangat bermanfaat untuk kami yang perlu perawatan khusus," ujar Siti, salah satu peserta. Antusiasme Peserta dan Rencana Tindak Lanjut Kegiatan berlangsung interaktif, dengan peserta aktif bertanya tentang pengembangan produk hingga strategi pemasaran. Museum Ostomi Indonesia berencana menjadikan pelatihan ini sebagai program rutin, bahkan berkolaborasi dengan komunitas lain untuk memperluas dampak positifnya. "Kami berharap pelatihan ini memicu gerakan mandiri di tingkat rumah tangga. Setiap tetes eco enzyme yang dibuat hari ini adalah kontribusi untuk bumi yang lebih sehat," pungkas perwakilan museum. Tutup dengan Aksi Nyata Acara ditutup dengan foto bersama dan pembagian starter kit buat peserta, serta rencana tindak lanjut berupa pendampingan bagi peserta yang ingin mengembangkan produk eco enzyme secara berkelanjutan. Dengan semangat "Satu Langkah Kecil untuk Lingkungan, Satu Lompatan Besar untuk Masa Depan", Museum Ostomi Indonesia dan Komunitas Ostomate InOA Bogor membuktikan bahwa kolaborasi bisa menciptakan perubahan nyata.
Updated: 24 Jul 2025
Baca lebih lanjut
Bogor, 27-28 Juni 2025 – Suasana penuh semangat dan kebersamaan mewarnai Ostomate Gathering dalam rangkaian acara Stoma Care Week 2025 yang diselenggarakan di IPB Convention Center Botani, Bogor. Acara yang digagas oleh Yayasan WoCare Indonesia ini menjadi wadah bagi para ostomate (pengguna kantong stoma) dari Komunitas InOA Kota Bogor untuk berbagi inspirasi, edukasi, dan hiburan, sekaligus memperkuat dukungan bagi sesama pejuang stoma. Hari Pertama: Pembukaan Meriah dan Peresmian Museum Ostomi Indonesia Kegiatan Ostomate Gathering dibuka pada pukul 10.00 WIB dengan line dance ceria yang langsung memompa semangat peserta. Tak kalah seru, penampilan band yang personelnya merupakan ostomate berhasil membawa energi positif, membuktikan bahwa hidup dengan stoma tak menghalangi semangat berkarya. Puncak acara tiba pada pukul 13.00 WIB, ketika Walikota Bogor, Bapak Dedie Rachim, beserta Ibu Walikota secara resmi membuka Stoma Care Week 2025 sekaligus meresmikan Museum Ostomi Indonesia – sebuah terobosan bersejarah bagi komunitas ostomate di Tanah Air. Museum ini, yang difasilitasi oleh Yayasan WoCare Indonesia, menjadi pusat edukasi dan pengingat akan perjalanan panjang perawatan stoma di Indonesia. Tak hanya itu, launching Travel Card untuk Ostomate turut menjadi sorotan. Kartu ini dirancang untuk memudahkan perjalanan para ostomate dengan akses fasilitas kesehatan dan kebutuhan khusus selama di perjalanan. Usai pembukaan, Bapak Walikota dan rombongan mengunjungi booth-booth pameran serta menyaksikan langsung koleksi di Museum Ostomi Indonesia. Dalam kunjungannya, beliau turut memberikan donasi untuk operasional museum dan penyediaan kantong stoma gratis bagi ostomate kurang mampu – sebuah bentuk kepedulian nyata pemerintah terhadap kesejahteraan penyandang stoma. Edukasi, Hiburan, dan Antusiasme Tinggi Setelah pejabat kota berpamitan, acara Ostomate Gathering berlanjut dengan sesi edukasi dari Student ETNEP (Enterostomal Therapy Nursing Education Program), yang memberikan pemahaman mendalam tentang perawatan stoma. Peserta sangat antusias menyimak materi, menunjukkan tingginya kebutuhan akan informasi kesehatan yang akurat. Hari pertama ditutup dengan penampilan hiburan dan lomba yang diikuti para ostomate. Tawa dan keceriaan mengisi ruangan, membuktikan bahwa kebahagiaan dan semangat hidup tak pernah padam oleh kondisi fisik. Hari Kedua: Games Seru dan Harapan untuk Masa Depan Kegiatan hari kedua kembali dimulai dengan line dance dan berbagai games menarik, seperti game hadiah rumah tangga dan pohon uang. Setiap peserta berkesempatan membawa pulang hadiah, menambah keseruan acara. Antusiasme ostomate tak pernah surut. Mereka berharap acara seperti ini terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai pengingat bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini. Penutup: Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik Stoma Care Week 2025 dan Ostomate Gathering telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya. Dengan dukungan dari pemerintah, tenaga kesehatan (nakes), komunitas, dan yayasan seperti WoCare Indonesia, para ostomate dapat terus hidup berkualitas dan penuh makna. "Bersama, kita kuat. Bersama, kita berbagi. Bersama, kita menginspirasi." Mari terus dukung dan berikan yang terbaik untuk para pejuang stoma! #StomaCareWeek2025 #OstomateGathering #WoCareIndonesia #MuseumOstomiIndonesia
Updated: 11 Jul 2025
Baca lebih lanjut
Museum Ostomate Indonesia didirikan pada 25 Maret 2024 dengan tujuan menghilangkan stigma negatif di masyarakat terhadap ostomate. Kurangnya informasi yang mudah diakses sering kali menyebabkan kesalahpahaman bahwa seseorang dengan stoma memiliki kondisi yang menular, berbau, atau mengganggu kenyamanan sekitar. Stigma ini berdampak pada kualitas hidup ostomate, terutama dalam aspek psikologis, sosial, dan emosional. Misi Kami 1. Mengumpulkan, melestarikan, dan memamerkan koleksi barang-barang terkait ostomi untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang kondisi stoma. 2. Menyediakan informasi yang akurat dan terkini tentang ostomi agar pasien dan keluarga mereka lebih memahami kondisi ini. 3. Mengembangkan program edukasi dan penelitian untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang ostomi. 4. Membangun jaringan dengan komunitas ostomate di seluruh dunia guna memperkuat dukungan dan berbagi pengalaman. 5. Menyediakan dukungan dan bantuan bagi pasien ostomate dan keluarga mereka untuk meningkatkan kualitas hidup. Program dan Dukungan yang Kami Sediakan • Edukasi: Menyediakan informasi medis mengenai prosedur stoma serta perawatan sebelum dan sesudah operasi. • Bantuan Kantong Stoma: Memberikan kantong stoma bagi ostomate yang membutuhkan, terutama bagi mereka yang kurang mampu. • Penyuluhan: Mengedukasi masyarakat untuk mengurangi stigma terhadap ostomate dan meningkatkan empati sosial. • Dukungan Psikologis: Menyediakan ruang yang mendukung kesehatan mental bagi ostomate dan keluarganya. • Aksesibilitas: Menawarkan informasi yang mudah diakses, baik secara fisik maupun digital. • Dukungan Sesama Ostomate: Menghubungkan ostomate satu sama lain untuk berbagi pengalaman, dorongan, dan dukungan moral. Upaya Menurunkan Kejadian Kanker Kolorektal Kanker kolorektal dapat dicegah dan dikelola melalui berbagai upaya yang mencakup pendekatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menekan angka kejadian kanker kolon serta mengurangi kebutuhan pembuatan stoma pada pasien. 1. Upaya Promotif (Edukasi dan Peningkatan Kesadaran) Tujuan: Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai faktor risiko serta pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah kanker kolon Edukasi Pola Makan Sehat 1. Mengonsumsi makanan tinggi serat seperti sayuran hijau, buah-buahan, dan biji-bijian untuk memperlancar pencernaan dan mengurangi risiko kanker. 2. Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan konsumsi daging merah berlebihan yang dapat meningkatkan inflamasi pada usus. 3. Memperbanyak makanan kaya antioksidan seperti tomat, wortel, dan teh hijau untuk menangkal radikal bebas. 4. Memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D yang dapat melindungi sel usus dari perubahan abnormal. Menerapkan Gaya Hidup Sehat 1. Berolahraga rutin minimal 30 menit sehari untuk meningkatkan metabolisme dan mengurangi risiko obesitas. 2. Menghindari rokok dan alkohol yang dapat merusak DNA sel usus dan memicu pertumbuhan kanker. 3. Mengelola stres dengan meditasi, yoga, atau aktivitas relaksasi lainnya untuk menjaga keseimbangan hormonal tubuh. Edukasi Faktor Risiko dan Pencegahan 1. Penyuluhan tentang faktor genetik yang berperan dalam kanker kolon serta pentingnya deteksi dini bagi individu dengan riwayat keluarga penderita kanker kolon. 2. Mempromosikan pola BAB yang sehat, termasuk kebiasaan tidak menahan buang air besar dan menjaga keteraturan pencernaan. 2. Upaya Preventif (Pencegahan Dini dan Deteksi Dini) Tujuan: Mencegah perkembangan kanker kolon sebelum muncul gejala berat. Skrining dan Deteksi Dini 1. Tes darah samar pada feses (FOBT/FIT) setiap tahun untuk mendeteksi keberadaan darah dalam tinja yang bisa menjadi tanda awal kanker kolon. 2. Kolonoskopi setiap 10 tahun bagi individu di atas 50 tahun atau lebih sering jika memiliki riwayat keluarga dengan kanker kolon. 3. Sigmoidoskopi fleksibel setiap 5 tahun untuk mendeteksi polip atau kelainan di bagian bawah kolon. 4. Tes genetik bagi individu dengan riwayat keluarga sindrom Lynch atau poliposis adenomatosa familial (FAP). Modifikasi Gaya Hidup untuk Pencegahan 1. Menjaga berat badan ideal untuk mengurangi risiko peradangan kronis pada usus. 2. Mengonsumsi probiotik seperti yogurt dan kefir guna menjaga keseimbangan mikrobiota usus. 3. Menghindari zat karsinogenik seperti makanan olahan dan makanan yang diawetkan dengan nitrat atau pengawet buatan. Vaksinasi dan Pengobatan Penyakit Penyerta 1. Vaksinasi Hepatitis B untuk mengurangi risiko kanker gastrointestinal. 2. Mengontrol penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, atau sindrom metabolik yang dapat meningkatkan risiko kanker kolon. 3. Upaya Kuratif (Pengobatan untuk Mencegah Kebutuhan Stoma) Tujuan: Mengobati kanker kolon sebelum berkembang lebih lanjut dan mencegah pembuatan stoma. Pilihan Pengobatan Tanpa Stoma 1. Operasi laparoskopi atau robotik yang lebih minim invasif serta memungkinkan penyambungan kembali usus setelah pengangkatan tumor. 2. Kemoterapi neoadjuvan sebelum operasi untuk mengecilkan tumor sehingga pengangkatan usus dapat diminimalkan. 3. Radioterapi untuk mengecilkan ukuran tumor sebelum operasi atau membunuh sisa sel kanker pasca operasi. 4. Terapi target (monoklonal antibody) yang lebih spesifik menyerang sel kanker tanpa merusak jaringan sehat. 5. Imunoterapi untuk membantu sistem kekebalan tubuh melawan kanker lebih efektif. Manajemen Komplikasi untuk Mencegah Stoma 1. Perbaikan kebocoran anastomosis menggunakan teknik medis guna mencegah kebocoran usus yang dapat menyebabkan kebutuhan stoma. 2. Pengelolaan infeksi melalui pemberian antibiotik dan pemantauan ketat setelah operasi. 3. Terapi suportif untuk mengurangi efek samping kemoterapi dan radioterapi sehingga pasien dapat tetap menjalani pengobatan tanpa operasi besar. 4. Upaya Rehabilitatif (Pemulihan Pasca Pengobatan dan Pencegahan Kanker Kembali) Tujuan: Memastikan pasien dapat menjalani hidup normal tanpa komplikasi atau kekambuhan. Pemulihan Fungsi Pencernaan 1. Diet bertahap pascaoperasi, mulai dari makanan lunak hingga makanan padat dengan porsi kecil agar usus beradaptasi. 2. Konsumsi probiotik dan prebiotik untuk membantu regenerasi mikrobiota usus setelah operasi atau kemoterapi. 3. Terapi diet khusus bagi pasien dengan gangguan pencernaan pasca operasi agar tetap mendapatkan nutrisi yang cukup. Fisioterapi dan Terapi Okupasi 1. Pelatihan kembali fungsi usus untuk mengembalikan pola buang air besar yang normal. 2. Terapi fisik bagi pasien yang mengalami kelemahan otot setelah perawatan kanker. 3. Dukungan psikologis untuk membantu pasien mengatasi kecemasan dan trauma pascakanker. Pemeriksaan Berkala untuk Mencegah Kekambuhan 1. Kolonoskopi ulang setiap 3-5 tahun untuk memantau kemungkinan munculnya polip atau tumor baru. 2. Tes CEA (Carcinoembryonic Antigen) untuk mendeteksi tanda-tanda awal kekambuhan kanker kolon. 3. Pemeriksaan radiologi (CT Scan/MRI) secara berkala untuk melihat kemungkinan penyebaran kanker ke organ lain. 5. Upaya Paliatif (Perawatan untuk Pasien Stadium Lanjut) Tujuan: Meningkatkan kualitas hidup pasien dengan kanker kolon stadium lanjut atau yang tidak dapat disembuhkan. Manajemen Nyeri dan Gejala 1. Pemberian analgesik (opioid/non-opioid) untuk mengatasi nyeri akibat kanker atau komplikasi penyakit. 2. Terapi nutrisi agar pasien tetap mendapatkan asupan gizi meskipun mengalami gangguan pencernaan. 3. Terapi psikososial untuk memberikan dukungan mental bagi pasien dan keluarganya. Pendekatan Multidisiplin untuk Pasien Terminal 1. Hospice care bagi pasien dengan harapan hidup terbatas agar mendapatkan perawatan yang nyaman. 2. Pendampingan spiritual sesuai kepercayaan pasien untuk membantu mereka menghadapi kondisi dengan tenang. 3. Dukungan keluarga, termasuk edukasi mengenai cara merawat pasien di rumah serta memberikan dukungan emosional.
Updated: 09 Jul 2025
Baca lebih lanjut
Bogor, 22 Mei 2025 – Museum Ostomi Indonesia kembali menunjukkan dedikasinya dalam memberdayakan para ostomate (pengguna kantong ostomi) melalui kegiatan pelatihan hidroponik yang inspiratif. Acara kolaboratif bersama Komunitas Ostomate INOA Bogor ini sukses digelar dengan antusiasme tinggi dari peserta se-Jabodetabek, sekaligus menegaskan bahwa ostomi bukan penghalang untuk beraktivitas produktif. Pembukaan Penuh Makna oleh Para Pemangku Kepentingan Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dari Ns. Eviyanti Nurmalasari, Manager PT Pohon Bidara Medika, yang mengapresiasi semangat peserta untuk terus belajar. "Hidroponik bukan hanya sekadar bercocok tanam, tapi juga terapi yang menyenangkan sekaligus menyehatkan," ujarnya. Selanjutnya, Ibu Sri Widayati, Penasihat Yayasan WOCare Indonesia, menekankan pentingnya kemandirian dan dukungan komunitas bagi ostomate. "Kegiatan seperti ini membuktikan bahwa bersama-sama, kita bisa menciptakan peluang dan inovasi," tuturnya. Hidroponik Praktis oleh Ostomate, untuk Ostomate Sesi inti acara dipandu oleh Bapak Mumuh Munadji, seorang ostomate yang sekaligus ahli hidroponik. Dengan gaya mengajar yang interaktif, Pak Mumuh membagikan ilmu mulai dari: Penyemaian bibit menggunakan media rockwool. Pembuatan instalasi hidroponik, termasuk pemotongan baja ringan dengan gerinda dan perakitan menggunakan bor. Yang menakjubkan, berkat kolaborasi tim yang solid, seluruh proses—dari persiapan hingga instalasi siap pakai—hanya membutuhkan 6 jam! Peserta pun terlihat antusias mencoba setiap tahapan, membuktikan bahwa keterampilan teknis bisa dikuasai oleh siapa pun, termasuk ostomate. Dukungan Metcovazin: Komitmen untuk Kualitas Hidup Ostomate Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Metcovazin, perusahaan yang konsisten mendukung inisiatif peningkatan kualitas hidup ostomate. "Kami sangat berterima kasih atas kontribusi Metcovazin. Dukungan seperti ini sangat berarti bagi keberlanjutan program-program edukatif kami," ujar perwakilan Museum Ostomi Indonesia. Tidak Hanya Berkebun, Tapi juga Memanen Manfaat Selain keterampilan baru, peserta membawa pulang semangat kebersamaan dan keyakinan bahwa mereka bisa tetap produktif. Banyak yang berencana menerapkan hidroponik di rumah, baik untuk hobi maupun sumber pangan sehat. "Senang bisa belajar hal baru sekaligus bertemu teman-teman yang menginspirasi," kata salah satu peserta. Tentang Museum Ostomi Indonesia Sebagai pusat edukasi ostomi pertama di Indonesia, museum ini aktif menyelenggarakan pelatihan, diskusi, dan kegiatan pendukung untuk meningkatkan kemandirian ostomate. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha seperti Metcovazin, menjadi kunci keberhasilan program-programnya. "Mari terus berkarya—karena setiap keterbatasan bisa ditaklukkan dengan semangat dan dukungan!"
Updated: 08 Jul 2025
Baca lebih lanjut
Pada Kamis, 20 Maret 2025, Museum Ostomi Indonesia mengadakan Focus Group Discussion (FGD) secara virtual melalui platform Zoom. Kegiatan ini difokuskan pada pasien colostomi, dengan tujuan membahas pentingnya gizi dan pola makan dalam mendukung kesehatan dan kualitas hidup mereka. Dengan membatasi peserta hanya 10 orang, FGD ini dirancang agar lebih interaktif dan mendalam, sehingga setiap peserta dapat berbagi pengalaman dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang topik yang dibahas. Tujuan FGD: Membangun Kesadaran tentang Gizi dan Pola Makan FGD kali ini mengangkat tema pentingnya gizi dan pola makan bagi pasien colostomi. Tujuannya adalah untuk menggali informasi tentang bagaimana pola makan yang tepat dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental pasien, serta meningkatkan kualitas hidup mereka. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi para ostomate (pasien colostomi) untuk berbagi pengalaman langsung tentang tantangan dan solusi yang mereka hadapi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Narasumber dan Moderator Berpengalaman Kegiatan ini dipandu oleh moderator, Tomi Abas, S.Kep., WOC(ET)N yang juga seorang stoma nurse, yang memiliki pengalaman luas dalam perawatan pasien ostomi. Sebagai pembicara, hadir Guru Besar di bidang perawatan luka stoma dan inkontinensia, Ibu Widasari Sri Gitarja, S.Kp., MM., MARS., WOC(ET)N, yang juga merupakan pemilik Yayasan WOCARE Indonesia. Beliau membagikan pengetahuan mendalam tentang perawatan stoma, asupan nutrisi pada colostomy dan pentingnya pendekatan holistik dalam mendukung pasien colostomi. Selain itu, Riza Iska Juwita, S.Gz, ahli gizi dari Staff Diklat WOCare Center Bogor, turut memberikan pemaparan tentang pola makan yang sesuai untuk pasien colostomi. Dengan penjelasan yang komprehensif, peserta diajak untuk memahami bagaimana nutrisi yang tepat dapat membantu mengoptimalkan pemulihan dan menjaga kesehatan jangka panjang. Interaksi Langsung dan Berbagi Pengalaman Salah satu keunggulan FGD ini adalah kesempatan bagi peserta untuk berinteraksi langsung dengan para ahli dan sesama ostomate. Melalui diskusi interaktif, peserta dapat bertanya, berbagi pengalaman, dan mendapatkan solusi praktis terkait masalah yang mereka hadapi. Hal ini tidak hanya meningkatkan pemahaman tentang pentingnya gizi, tetapi juga membangun rasa solidaritas dan dukungan antar peserta. Program Rutin Museum Ostomi Indonesia Kegiatan FGD ini merupakan bagian dari program rutin Museum Ostomi Indonesia yang diadakan setiap bulannya. Melalui berbagai kegiatan edukatif seperti ini, museum berkomitmen untuk terus memberikan dukungan dan informasi yang bermanfaat bagi para ostomate dan keluarga mereka. Dengan menghadirkan narasumber yang ahli dan berpengalaman, Museum Ostomi Indonesia berharap dapat menjadi wadah yang inspiratif dan mendukung bagi komunitas ostomate di Indonesia. Penutup FGD yang diadakan pada 20 Maret 2025 ini menjadi bukti nyata komitmen Museum Ostomi Indonesia dalam meningkatkan kualitas hidup pasien colostomi. Melalui diskusi yang interaktif dan mendalam, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru tentang gizi dan pola makan, tetapi juga merasakan dukungan dari komunitas yang peduli. Dengan semangat kolaborasi dan edukasi, Museum Ostomi Indonesia terus berupaya menjadi garda terdepan dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan para ostomate di tanah air.
Updated: 08 Jul 2025
Baca lebih lanjut
Pada hari Jumat, 28 Februari 2025, Museum Ostomi Indonesia yang berlokasi di Perumahan Taman Sari Persada Blok H1 No. 6, mengadakan kegiatan jalan sehat bertajuk "Peduli Kaki Sehat Bersama Ostomate". Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan kaki, khususnya bagi para ostomate (orang yang telah menjalani operasi ostomi) serta masyarakat umum. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan KISS (Komunitas Kaki Sehat Se-Indonesia) dan WOCare Center Bogor. Rute Jalan Sehat Jalan sehat dimulai dari kantor InOA (Indonesian Ostomy Association) dan melewati rute yang telah ditentukan, yaitu menuju Gerbang Taman Sari Persada, kemudian kembali ke kantor InOA sebagai titik finis. Rute ini dipilih untuk memberikan kesempatan kepada peserta menikmati suasana sekitar sambil berolahraga ringan. Panitia telah menyiapkan pos-pos kesehatan di sepanjang rute untuk memastikan keamanan dan kenyamanan peserta. Tujuan Kegiatan Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan kaki, terutama bagi para ostomate yang membutuhkan perhatian khusus dalam perawatan fisik. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi antara para ostomate, anggota KISS, dan masyarakat umum. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih peduli dan inklusif bagi para penyandang ostomi. Peserta Kegiatan Peserta jalan sehat terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari para ostomate, anggota KISS, relawan WOCare Center Bogor, hingga masyarakat umum yang tertarik untuk mendukung kegiatan ini. Dukungan dari Berbagai Pihak Kegiatan ini tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan dari berbagai pihak. Selain KISS dan WOCare Center Bogor, acara ini juga didukung oleh Metcovazin sebagai sponsor yang peduli terhadap kesehatan masyarakat. Panitia menyediakan air mineral, snack, bagi para peserta sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. Harapan ke Depan Melalui kegiatan jalan sehat ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan kaki dan memberikan dukungan moril bagi para ostomate. Kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup para ostomate dan masyarakat pada umumnya. Penutup Jalan sehat "Peduli Kaki Sehat" ini bukan hanya sekadar ajang olahraga, tetapi juga simbol solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Semoga kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Updated: 05 Mar 2025
Baca lebih lanjutPada hari Rabu, 19 Februari 2025, Museum Ostomate yang berlokasi di Perumahan Taman Sari Persada menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan inspiratif berupa melukis bersama para ostomate. Acara ini diselenggarakan komunitanas ostomate InOA Yayasan Wocare Indonesia di bawah kepemimpinan Ibu Widasari Sri Gitarja, S.Kp., MM., MARS., WOC(ET)N. Kegiatan ini dihadiri oleh para ostomate, keluarga, serta stoma nurse, dan disiarkan secara langsung melalui platform Instagram dan TikTok untuk menjangkau lebih banyak audiens. Tujuan Kegiatan Kegiatan ini memiliki beberapa tujuan mulia, di antaranya: Meningkatkan Kesejahteraan Mental dan Emosional Secara Kreatif: Melalui kegiatan melukis, para ostomate diajak untuk mengekspresikan perasaan dan emosi mereka secara kreatif. Seni telah lama dikenal sebagai terapi yang efektif untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental. Membangun Kembali Rasa Percaya Diri: Banyak ostomate yang mengalami penurunan rasa percaya diri akibat kondisi kesehatan mereka. Dengan berkarya bersama, mereka dapat merasakan pencapaian dan kebanggaan atas hasil karya mereka, yang pada akhirnya membantu memulihkan kepercayaan diri. Memperkuat Dukungan Sosial: Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkuat ikatan sosial antar ostomate, keluarga, dan tenaga kesehatan. Dengan saling berbagi pengalaman dan dukungan, para ostomate diharapkan merasa lebih diterima dan didukung secara sosial. Meningkatkan Kualitas Hidup Ostomate: Secara keseluruhan, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup para ostomate dengan memberikan mereka sarana untuk mengekspresikan diri, bersosialisasi, dan merasa lebih baik secara mental dan emosional. Kegiatan dimulai dengan sambutan hangat dari Ibu Widasari Sri Gitarja, yang menyampaikan pentingnya dukungan mental dan sosial bagi para ostomate. Setelah itu, para peserta diajak untuk mulai melukis dengan bimbingan dari instruktur seni yang berpengalaman. Berbagai warna dan kanvas disediakan, memungkinkan setiap peserta untuk mengekspresikan diri mereka secara bebas. Di sela-sela kegiatan, para ostomate dan panitia melaksanakan sholat Zuhur berjamaah. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada penghalang bagi para ostomate untuk tetap menjalankan ibadah mereka, sekaligus menegaskan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Untuk memperluas dampak positif dari kegiatan ini, acara disiarkan secara langsung melalui Instagram sahabat ostomate, wocare center dan TikTok. Hal ini tidak hanya memungkinkan lebih banyak orang untuk menyaksikan kegiatan tersebut, tetapi juga memberikan inspirasi dan dukungan kepada ostomate lain yang mungkin tidak dapat hadir secara fisik. Kegiatan melukis bersama ostomate ini merupakan bukti nyata dari komitmen Yayasan WOCare Indonesia dan InOA wocere Bogor dalam meningkatkan kualitas hidup para ostomate. Melalui seni, dukungan sosial, dan ibadah, para peserta diajak untuk merasakan kebahagiaan dan kepuasan yang lebih besar dalam hidup mereka. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi komunitas ostomate di Indonesia. #OstomateBersatu #KesehatanMental #SeniUntukSemua #WOCareIndonesia #perawatanstoma #sahabatostomate
Updated: 21 Feb 2025
Baca lebih lanjut
Salam sehat untuk sahabat ostomy semua, kami dari InOA (Indonesian Ostomy Association ) Bogor di bawah naungan Wocare center, Insya Allah akan mulai mendirikan museum ostomate, yang mana nantinya bertujuan untuk Membangun kesadaran dan pengertian tentang ostomi, meningkatkan kualitas hidup ostomate, Menghormati dan mengenang perjuangan pasien ostomate dengan menyediakan ruang untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan serta Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perawatan ostomi yang tepat, untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kualitas hidup pasien. 1. Setiap pasien ostomate memiliki cerita yang unik dan berharga. Mari kita simpan dan bagikan cerita-cerita tersebut untuk inspirasi dan edukasi. 2. Museum ostomate bukan hanya tentang menyimpan barang-barang, tapi tentang menyimpan harapan dan inspirasi untuk pasien ostomate di seluruh dunia. 3. Dengan mendirikan museum ostomate, kita dapat membantu pasien ostomate merasa tidak sendirian dan memiliki komunitas yang mendukung. Salam sehat, mohon doanya bapak/ibu para ostomate semua, semoga fasilitas ini bisa bermanfaat buat semua. Terimakasih #stoma #kolostomi #wocare #inoabogor
Updated: 06 Feb 2025
Baca lebih lanjut